Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gus Zuem: Politik Horeg & Limbah

A
Penulis: Ainul Hafidz❯
KH Zaimuddin Wijaya As
KH Zaimuddin Wijaya As'ad atau Gus Zuem. (Radar Jombang)

Advertisement

Setiap bulan Agustus, masyarakat kita seolah memasuki siklus yang berulang: perdebatan mengenai penggunaan sound horeg.

Perangkat audio berdaya tinggi itu bukan sekadar bagian dari karnaval, tetapi telah menjadi simbol ekspresi masyarakat akar rumput.

Namun, di balik hiruk-pikuknya, terdapat dinamika politik yang jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan kebisingan.

Saya tidak hendak masuk ke wilayah fatwa MUI Jawa Timur.

Untuk urusan itu, saya sami’na wa atho’na saja.

Advertisement

Yang menarik justru pertanyaan di balik kontroversi tersebut: bagaimana pemerintah menghadapi sebuah fenomena masyarakat ketika di dalamnya bertemu antara ekspresi rakyat, kepentingan ekonomi, kenyamanan publik, dan kepentingan politik.?

Sebuah pernyataan pengusaha sound horeg Jatim dalam talkshow Catatan Demokrasi di TV One menarik untuk direnungkan.

Ia menyentil anggota DPR dari daerah pemilihan Jabar, Gus Maman, dengan logika sederhana: kalau fenomena sound horeg itu terjadi di Jawa Barat, apakah dia akan berani mengingatkan masyarakat penggemarnya.

Penanya secara implisit mengaitkan sikap legislative maupun executive dengan elektabilitas politiknya.

Kita tahu bahwa sound horeg bukan hanya soal selera musik. Ia adalah ruang ekspresi, identitas sosial, dan wadah konsolidasi komunitas.

Advertisement

Artikel Terkait

Gus Zuem: Muktamar 35 dan Khittah 26

Gus Zuem: Muktamar 35 dan Khittah 26

BILA Anda mencermati bilangan di atas dan menjumlahkannya, akan mendapatkan angka yang sama: 8.

Gus Zuem: Voucher Muktamar 

Gus Zuem: Voucher Muktamar 

SEORANG kawan mengirim potongan video yang berisi curhatan warga NU tentang kebanggaannya pada tokoh idolanya untuk menjadi ketua umum, akan tetapi dia pesimis karena jagonya itu tidak didukung “voucher” yang memadai.

Gus Zuem: Muktamar Banyak Kamar

Gus Zuem: Muktamar Banyak Kamar

MUKTAMAR bukan sekadar agenda lima tahunan. Bagi warga Nahdlatul Ulama (NU), muktamar adalah saat pemilik dan penumpang sebuah kapal besar mengevaluasi nahkoda, awak kapal dan perjalannya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer