
BILA Anda mencermati bilangan di atas dan menjumlahkannya, akan mendapatkan angka yang sama: 8.
Dari kesamaan angka itulah, saya mencoba untuk melihat korelasi antara muktamar yang fenomenal di Tambakberas Jombang dengan muktamar yang menumental di Situbondo.
Fenomenal karena dibuka dan ditutup langsung oleh presiden RI ke-8. Monumental karena muktamar 1984 itu melahirkan keputusan kembali ke khittah 1926.
Baca Juga: 1.022 Peserta Ikuti SSO XXVII 2026 di SMA Darul Ulum 2 Jombang
Dari kedua muktamar yang berjarak 4 dekade itu, pertanyaan saya sederhana, tetapi mungkin tidak sederhana jawabannya: setelah Muktamar 35, apakah NU akan semakin dekat atau makin jauh dengan khittah 26.?
Muktamar 1984 dikenang bukan semata karena NU menerima Pancasila sebagai asas organisasi dan menyatakan kembali kepada Khittah 1926.
Yang jauh lebih penting adalah keberanian NU melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri.
Saat itu, NU menyadari bahwa keterlibatan terlalu jauh dalam politik praktis telah menyedot energi jam’iyah.
NU kemudian memilih kembali menjadi rumah besar umat untuk pembinaan kehidupan beragama, pendidikan, pesantren, sosial, ekonomi dan kebangsaan.
Yang menarik, keputusan besar itu kemudian menemukan duet kepemimpinan yang handal : KH. Achmad Siddiq sebagai Rais Aam dan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum.
Kiai Siddiq dan Gus Dur berbeda gaya, tetapi bertemu dalam satu visi: NU tidak boleh kehilangan jati dirinya hanya karena tergoda oleh hiruk-pikuk kekuasaan.



