
MEMANDANGI barisan santri baru dalam apel penutupan PLPSM (Pengenalan Lingkungan Pesantren Sekolah-Madrasah) kali ini, sangat mengharukan.
Di tengah derasnya berita negatif tentang pesantren, masih ada ribuan anak yang mantap memutuskan menjadi santri.
Mereka tetap mengemas pakaian, berpamitan kepada orang tua, lalu memasuki gerbang pesantren dengan segala harap dan cemas.
Baca Juga: Mental Health Check Up di RSUD Jombang, Solusi Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Mental
Keputusan nyantri itu, hari-hari ini, bukanlah pilihan yang ringan.
Media sosial membuat satu peristiwa buruk lebih cepat menyebar daripada seribu kabar baik.
Kasus kekerasan, pelanggaran asusila oleh oknum, hingga konten yang menghakimi tradisi pesantren tanpa memahami nilai filosofisnya, silih berganti memenuhi beranda medsos.
Akibatnya, citra pesantren sering dibangun oleh prasangka, bukan oleh kenyataan bahwa ribuan pesantren setiap hari mendidik jutaan santri dengan penuh keteladanan.
Karena itu, saya memandang para santri baru dengan apresiasi yang sangat tinggi.
Mereka memilih mondok ketika pesantren sedang menghadapi ujian kepercayaan publik.
Penghargaan yang sama, layak diberikan kepada para wali santri yang masih mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada pesantren.


