
KALA surah al-Nashr ini turun, para sahabat berjingkrak bahagia. Ya, tapi tidak joget-jogetan koyok uler keket.
Hal itu karena mereka mendapatkan pulung, victory, keberuntungan dan kemenangan yang sangat gemilang, kucuran rahmat dari langit sana, ’’al-Nashr’’.
Setidaknya ada tiga pulung yang ditera pada surah pendek ini. Pertama, al-Nashr, kemenangan yang sangat gemilang di pihak umat Islam setelah berjuang lama bersama Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
Perjuangan yang berdarah-darah dan panjang, dari pertempuran satu bersambung ke perang yang lain yang sudah menunggu.
Ini benar-benar menguji keimanan. Gangguan dan kekerasan para kafir sungguh di luar batas kemanusiaan.
Bayangkan, sahabat Bilal ibn Rabah radiyallahu anhu seorang budak berkulit hitam asal Ethiopia (Habasyah), kelahiran Makkah itu diikat dan diseret dengan kuda berlari kencang melintasi bebatuan padang pasir yang runcing dan terjal dalam terik matahari yang membara.
Ya, tentu saja babak belur, kulit lecet-lecet and bundas-bundas di sekujur tubuhnya.
Tidak sekadar itu, ketika terlihat Bilal tetap teguh dalam keimanan, mereka mencambuknya barkali-kali tanpa kasihan. So... Goyahkah imannya..?
Sama sekali tidak. Bahkan gak ngereken blas siksaan itu. Malahan, dari lisannya keluar satu kata yang mengguncang dunia hingga tembus ke langit sono, Ahad, Ahad, Ahad.
Tuhanku adalah Allah, Sang Ahad, Sang Maha Esa.



