
WA ra’aita al-nas yadkhulun fi din Allah afwaja. Kamu menyaksikan sendiri betapa manusia berduyun-duyun memeluk agama Islam.
Sebuah perjalanan akhir dari deretan pejuangan membela islam yang panjang, keras dan melelahkan.
Tidak sekedar kotanya yang dikuasai, bahkan penduduknya yang keras kepala ditundukkan.
Ketundukan mana bukan karena keterpaksaan belaka, justru lebih pada ketundukkan yang didasari jiwa agama secara sempurna.
Memang awalnya demikian, tetapi lambat laun mereka justru menjadi pengikut Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang setia dan punya semangat berkorban.
Abu Sufyan – misalnya – dari pembesar yang disegani di lingkungannya, kini berubah menjadi sahabat mulia dan tetap dihormati. Itu hukum sosial dan dipraktikkan oleh Islam.
Seseorang yang menjadi tokoh di lingkungannya, meski kafir, kini, setelah memeluk Islam tetap ditokohkan.
Diposisikan seperti martabat semula. Islam mengajarkan itu dan Rasulullah mengamalkan kurikulum sosial tersebut.
Dengan islamnya Abu Sufyan dan dia pribadi merasa nyaman dengan perlakuan Islam, merasa tetap terhormat, merasa tidak ada yang hilang dari pamornya, maka itu sungguh pengaruh dakwah yang besar kepada lingkungannya, kepada kaumnya.
Makanya, surah ini membahasakan ’’fath Makkah’’ dengan mengunggah para manusia berduyun-duyun memeluk Islam.



