Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cerpen: Sahabat Kaca

A
Penulis: Ainul Hafidz❯
Ilustrasi cerpen anak di depan kaca retak.
Ilustrasi cerpen anak di depan kaca retak.

PADA umumnya, anak-anak menangis jika ditampar ibunya. Wajah Samudra datar ketika pukulan ibunya melayang ke wajah dan tubuhnya penuh dengan memar.


Advertisement

Badai malam itu menutupi suara siksaan Samudra yang tak kunjung henti.

’’Kenapa kau selalu merepotkanku? Sehari saja jangan ganggu aku.’’

Sewajarnya anak menerima kasih sayang, hadiah, dan makan dari orang tua.

Advertisement

Samudra, seorang anak tunggal dari ibu tanpa bapak. Dulu dia tidak pemurung sebelum ibunya mengenal paman itu.

Ibu Samudra selalu pulang larut malam tanpa memedulikannya, suatu ketika Samudra menolak masakan ibunya dan menjadi kisah awal cerita Samudra.

’’Cepat habiskan makanan itu. Apa kau tidak menghargaiku lagi?’’

Advertisement

Malam sunyi angin semilir masuk jendela. Ibunya meninggalkan ia begitu saja, suap demi suap nasi dilantai ia makan hingga tak tersisa.

Samudra menatap pantulan bayangan di kaca retak. Wajah Samudra di depan retakan kaca, menggambarkan seberapa hancur dirinya.

Di pantulan bayangan kaca muncul sosok yang menyerupai dirinya, Bara, sosok yang menghentikan Samudra ketika hendak melukai dirinya dengan pecahan kaca.

’’Kau berhak melawan, Samudra. Seharusnya kau makan seperti anak-anak lainnya.’’

Samudra berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah kaca.

’’Siapa kamu?’’

’’Apa kau buta? Aku adalah dirimu, seperti yang kau lihat sekarang. Kita sudah lama bersama, akhirnya aku bisa bicara denganmu.’’

Samudra sering berbicara dengan Bara dari kaca tersebut setelah ia disiksa oleh ibunya.

Bara selalu menghiburnya semenjak malam itu, hidup Samudra berubah dari yang mati rasa sedikit demi sedikit mulai menunjukkan emosinya.

’’Hei anak tak berguna, pergi kau dari hadapanku. Aku benci melihatmu, kau mirip laki-laki itu. Seandainya aku tak melahirkanmu, mungkin aku sudah tidur nyaman di kasur yang luas.’’

Layaknya hujan badai, makian ibunya ke Samudra tak kunjung henti serta pukulan sapu yang mengenai tubuh penuh memarnya.

Samudra diam, tapi tidak dengan Bara dalam diri Samudra.

’’Hei wanita murahan, hentikan kelakuanmu.’’

’’Apa katamu? Ulangi!’’

’’Maksudku, wah ibu hari ini cantik banget. Pasti ganti om yang baru ya? Aku paham kok Bu, kalau sebenarnya ibu itu murahan. Mudah banget dibohongi lelaki.’’

Rumah terasa sunyi, ibu Samudra diam. Samudra meninggalkan ibunya tanpa berkata-kata.

Keesokannya ia menemui ibunya melayang tergantung dalam keabadian damai tanpa mengetahui penyebabnya.

Penulis:

Ario Sayyid Aqil Ali

Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah

Advertisement

Artikel Terkait

Rombongan Pesilat Lamongan Dilempari Batu di Ploso Jombang, Kaca Depan Pecah

Rombongan Pesilat Lamongan Dilempari Batu di Ploso Jombang, Kaca Depan Pecah

Mobil Isuzu Elf yang mengangkut rombongan pesilat asal Kabupaten Lamongan menjadi sasaran pelemparan batu orang tak dikenal (OTK) saat melintas di Jalur Provinsi Ploso–Kabuh, tepatnya Dusun Kunden, Desa Kedungdowo, Kecam

Student Journalism Jombang: Albert Baskara Laxsander

Student Journalism Jombang: Albert Baskara Laxsander

Baskara adalah laki-laki yang memiliki perbedaan. Dia tampan namun sifatnya  berbeda. Beda? Iya beda. Contohnya, dia itu  nakal. Selalu melanggar peraturan sekolah. Dia juga keras kepala. Banyak orang yang tidak mau

Setitik Cahaya yang Mulai Padam

Setitik Cahaya yang Mulai Padam

DI sebuah desa terpencil di antara dua gunung raksasa, terdapat sebuah desa yang disebut Desa Kabut. Sesuai namanya, desa ini diselimuti oleh kabut abadi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer