JombangBanget.id - Kebahagiaan dalam Islam tidak selalu ditentukan banyaknya harta, kenyamanan hidup, atau terpenuhinya keinginan.
Salah satu bentuk kebahagiaan yang lebih berharga adalah ketika seorang hamba mendapat taufik dari Allah untuk menjalani kehidupan dalam ketaatan, berakhlak baik, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua MWCNU Kecamatan Jombang, H Moch Wildan Habibie.
Baca Juga: Disdikbud Jombang Siapkan Rp 5,7 Miliar untuk Meja dan Kursi SMPN, Berikut Rinciannya
’’Kata hidup atau al-hayatu identik dengan al-haya'u (malu). Hidup diidentikkan dengan rasa malu. Manusia dianggap hidup jika merasa malu untuk melakukan hal-hal yang dapat merusak agama dan bangsa,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (28/10).
Di Alquran ada tiga makna dasar hidup. Rasa, tahu dan sadar, serta gerak dinamis.
’’Seorang dikatakan hidup menurut Alquran jika memiliki perasaan dalam hidup,’’ terangnya.
Seseorang yang hidup hendaknya mencari tahu tentang tiga hal.
Baca Juga: 115 Titik Irpom Kementan Dibangun di Jombang, 15 Persen Belum Rampung
Pertama makna alhayati, arti kehidupan). Kedua sa'adatul hayati, kebahagiaan hidup. Ketiga, khotimatul hayati, akhirul hayat husnul khotimah.
Hidup dalam pandangan Islam berkesinambungan dari kehidupan dunia sampai akhirat. Hidup yang penuh arti dan manfaat bagi lingkungan.
Hidup seseorang dalam Islam diukur dengan seberapa besar ia melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai manusia hidup yang telah diatur oleh agama Islam.
Ada dan tiadanya seseorang dalam Islam ditakar dengan seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh umat dengan kehadiran dirinya.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Sebaik-baiknya manusia di antara kalian yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain.
Kebahagiaan seorang hamba tidak selalu berupa harta yang banyak, hidup yang nyaman, atau segala keinginan yang terpenuhi.
Baca Juga: Serapan APBD Jombang Baru 64 Persen, DPRD Evaluasi OPD
Ada kebahagiaan yang jauh lebih berharga: ketika Allah memberi taufik untuk menjalani hidup dalam ketaatan.
Di antara tanda kebahagiaan yang Allah Ta’ala berikan kepada seorang hamba ada tujuh.
Pertama, mudah melakukan amal ketaatan. Ketika beribadah terasa dimudahkan, hati terdorong untuk melakukan kebaikan, dan langkah ringan menuju ketaatan, itu merupakan salah satu bentuk nikmat Allah Ta’ala.
Kedua, mendapat taufik untuk mengikuti sunah Nabi. Bukan hanya rajin beramal, tetapi juga diberi kemampuan untuk berusaha mengikuti petunjuk dan sunah Rasulullah dalam menjalani kehidupan.
Baca Juga: Akhir Tahun Makin Dekat, Rp 1,02 Triliun APBD Jombang Belum Terserap
Ketiga, dikelilingi orang-orang saleh. Allah Ta’la mempertemukan kita dengan orang-orang yang mengingatkan kepada kebaikan, mendukung dalam ketaatan, dan membantu kita tetap berada di jalan yang benar.
Keempat memiliki akhlak yang baik dalam pergaulan. Kebaikan seseorang tidak hanya terlihat ketika ia beribadah, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan teman, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya.
Kelima, senang menebarkan kebaikan kepada orang lain. Hatinya tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia berusaha agar keberadaannya memberikan manfaat bagi orang lain.
Keenam, memiliki kepedulian terhadap kaum muslimin. Ia tidak bersikap acuh terhadap keadaan saudaranya.
Baca Juga: Tagih Angsuran Koperasi, Penagih Utang di Jombang Diduga Dikeroyok Bapak-Anak
Ada kepedulian, perhatian, dan keinginan untuk membantu sesuai dengan kemampuannya.
Ketujuh, mampu menjaga waktunya. Ia menyadari, waktu bagian dari umur yang tidak akan kembali.
Karena itu, waktunya berusaha diisi dengan sesuatu yang bermanfaat, bukan dihabiskan dalam kesia-siaan. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz