JombangBanget.id – Jalan hidup Budi Susilowati, SPdGr, menjadi pengalaman yang sangat berharga.
Sejak menempuh pendidikan hingga mengabdi sebagai guru, ia akrab dengan keterbatasan dan pilihan-pilihan sulit.
Namun, justru dari jalan berliku itulah lahir sosok guru inspiratif dan berprestasi asal SMAN Bandarkedungmulyo.
Lahir di Jombang 25 Januari 1985 dari keluarga sederhana di Plosogeneng Kecamatan Jombang.
Ia mulai mengenyam pendidikan dasar di SDN Plosogeneng 1 dan melanjutkan ke SMPN 1 Jombang.
Sejak kecil, ia dikenal memiliki prestasi akademik yang baik. Namun, keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya berpikir realistis tentang masa depan.
Ia menyadari, meski nilai tinggi, melanjutkan pendidikan ke SMA belum tentu menjamin bisa kuliah.
”Orang tua saya tidak punya. Saya khawatir nanti berhenti di tengah jalan,” kenangnya.
Dengan pertimbangan itu, Budi memilih masuk SMKN 3 Jombang dan mengambil jurusan Teknik Elektronika dan lulus pada 2004.
Pilihan yang kala itu dianggap aman secara ekonomi, tetapi tak pernah memadamkan kecintaannya pada dunia akademik.
Setahun setelah lulus, pada 2005, Budi memberanikan diri mengikuti UMPTN.
Berbekal tekad dan belajar mandiri, ia mengambil jalur IPS bidang yang nyaris asing baginya.
Ia mempelajari geografi, ekonomi, dan akuntansi dari nol, banyak dibantu teman-teman lulusan SMA yang meminjamkan buku. Hasilnya, ia diterima di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Pengumuman kelulusan menjadi momen yang tak terlupakan. Di tengah hujan gerimis dan keterbatasan akses internet, Budi baru mengetahui kepastian jurusannya keesokan pagi melalui koran.
Ia resmi menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia peralihan disiplin dari teknik ke bahasa yang menurutnya “luar biasa”.
Selama kuliah, persoalan ekonomi kembali menjadi tantangan. Sejak semester awal, Budi mengandalkan beasiswa untuk membayar uang gedung dan kebutuhan kuliah.
Ia menerima beasiswa prestasi akademik hingga Beasiswa Bank Indonesia selama tiga tahun.
Beasiswa yang saat itu hanya diberikan kepada satu mahasiswa terbaik dari seluruh jurusan di UNESA.
Prestasi akademiknya memungkinkan ia menyelesaikan seluruh syarat kelulusan lebih cepat.
Meski sempat mendapat penolakan karena masih semester tujuh, Budi memperjuangkan haknya karena skripsi dan seluruh kompetensi telah tuntas.
Apalagi, ia telah diterima bekerja sebagai guru. Akhirnya, ia lulus dalam tujuh semester dengan predikat cumlaude.
Karier mengajarnya dimulai pada 2009 di SDI Roushon Fikr, bahkan sebelum ijazahnya resmi diterbitkan.
Ia juga mengajar di SMKN 3 Jombang dan SMK PGRI 2 Jombang. Tahun 2019 menjadi titik penting lain ketika ia diterima sebagai PNS dan ditempatkan di SMAN 1 Klakah, Lumajang.
Di daerah pinggiran Lumajang, Budi menghadapi realitas pendidikan yang jauh berbeda. Tantangan utamanya bukan nilai, melainkan kesadaran bersekolah.
Banyak siswa perempuan menikah dini, siswa laki-laki bekerja serabutan, bahkan sebagian orang tua siswa tidak fasih berbahasa Indonesia.
Budi kerap melakukan kunjungan rumah, bahkan membawa penerjemah bahasa Madura untuk berkomunikasi dengan keluarga siswa.
Ia memperjuangkan siswa-siswa yang hampir putus sekolah.
”Pendekatan secara intens terus saya lakukan, alhamdulillah beberapa siswa yang sempat ingin putus sekolah berhasil melanjutkan dan sekarang sudah bekerja bahkan bisa membiayai keluarga,” kenangnya.
Perjalanan pulang-pergi Jombang–Lumajang yang memakan waktu hingga enam jam menjadi tantangan tersendiri.
Hingga akhirnya, ia mendapat izin mutasi ke SMAN Bandarkedungmulyo, Jombang.
Di sekolah inilah Budi melanjutkan pengabdian dengan energi yang sama, mendidik dengan empati dan keyakinan bahwa pendidikan adalah alat perubahan hidup. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz