
BARU seminggu hajatan nasional yang bernama Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD/MI selesai dilaksanakan.
Tiga minggu sebelumnya, pada 6-16 April lalu, TKA jenjang SMP/MTs juga selesai dilaksanakan. Lega rasanya. Tidak hanya guru dan kredibel sekolah yang menyiapkan sedemikian rupa agar siswa mendapatkan nilai maksimal.
Orang tua juga tak mau ketinggalan dengan memberikan dukungan. Termasuk siswa itu sendiri.
Dan Senin (11/5) depan, ujian ulang untuk menunjang siswa yang belum mendapatkan nilai, atau yang nama dan nomor pesertanya tidak terdeteksi secara digital, akan dilaksanakan.
Hampir semua sekolah membuka kepanitiaan kembali TKA dengan tingkat kepesertaan antara 4-10 persen. Maka, mau tidak mau, semua unsur sekolah harus menyiapkan.
Siswa juga harus belajar kembali agar TKA yang diikuti kali ini tidak gagal system.
Secara nasional, memang tingkat kehadiran peserta pada saat TKA, baik jenjang SMP/MTs maupun jenjang SD/MI, tidak mencapai 100 persen.
Ada sekitar 2-3 persen siswa yang belum mengikuti TKA karena berbagai alasan, mulai dari kesiapan psikologis mereka sendiri. Sampai dengan pertimbangan minimnya dukungan orang tua.
Temuan siswa tidak hadir yang kemudian dijemput guru, menyampaikan berbagai macam alasan.
Bahkan terkesan dibuat-buat hanya untuk menghindari asesmen. Hal ini bisa dimaklumi karena memang sudah lima tahun penerapan sistem pendidikan nasional kita, tidak lagi memberlakukan ujian nasional.



