Al-Rahman al-Rahim. Sama-sama sifat welas asih, tapi al-Rahman lebih universal, tak terbatas, mengena kepada semua makhluk, lintas agama dan lintas apa-apa: Baik beriman maupun kafir, baik hamba bertakwa atau durhaka, rajin ibadah maupun hobi maksiat.
Ya, karena bagi Tuhan hanya memberi, mengasihi, titik.
Perkoro manusianya mengerti atau tidak, itu gak urus. Perhitungannya nanti di akhirat. Jadi, gak ada kaitan antara rezeki dengan keimanan maupun ketakwaan.
Baca Juga: Binrohtal: Mendidik Anak Saleh, Investasi Abadi yang Pahalanya Terus Mengalir
Gak kok yang beribadah tekun, wiridannya kenceng, baca Alqurannya istiqamah, mesti lebih kaya dibanding yang doyan maksiat.
Lihat daftar orang terkaya di dunia, didominasi wong kafir.
Tapi meskipun tidak ada jaminan kaya raya, orang yang bertakwa dijamin ’’makhraja’’, kehidupannya serba longgar dan selalu diberi solusi setiap kali menghadapi masalah duniawi. (al-Thalaq:2).
Sedangkan sifat al-Rahim, welas asih khusus bagi orang beriman saja yang dicurahkan nanti di akhirat. Dalam teologi, sifat al-Rahman hanya khusus Allah Ta’ala saja.
Baca Juga: Menuju Desa Cerdas dan Berkelanjutan, Pemdes Penggaron Jombang Kolaborasi dengan Akademisi
Tapi sifat al-Rahim bisa bagi Tuhan dan bisa dipakai sebagai sifat manusia.
Sembilan puluh sembilan sifat Tuhan terbaik, al-Asma’ al-Husna memang khusus Tuhan kecuali tiga sifat, yaitu: Aziz, Ra’uf dan Rahim (al-Taubah:128).
Tiga kata ini boleh dijadikan nama seseorang tanpa digandengi idlafah, Abd.
Jika digandengi dengan kata ’’abd’’, Abd al-Aziz, Abd al-Ra’uf, Abd al-Rahim, maka yang dimaksud adalah sifat Tuhan.
Hamba Allah yang Maha Aziz dan seterusnya.
Begitu spesialnya dua sifat ini, hingga diulang dua kali dalam al-Fatihah. Bismillah al-Rahman al-Rahim dan ayat ini.
Artinya, sebagai seorang hamba, sejatinya selalu dalam kasih Tuhan setiap saat.
Baca Juga: Kasus Rudapaksa Gadis Difabel Jombang, Terdakwa Dituntut 12 Tahun Penjara
Maka, jangan takut tak makan, dijamin ada rezeki. Baik yang berusaha serius maupun yang banyak pasrah.
Anak binatang yang baru lahir, biasanya diberi makan induknya.
Anak ikan, makanannya plangton, jasad renik di lingkungan sendiri, dalam air dan bisa ditangkap dengan mudah.
Tapi yang mustahil adalah bayi cicak. Cicak yang biasa hidup merayap di dinding, makanannya serangga, nyamuk, kupu-kupu kecil yang terbang dan tak terjangkau.
Baca Juga: Panen di Musim Kemarau Bawa Kabar Baik, Harga Gabah Petani di Jombang Melonjak Hingga Segini
Sifat induk cicak sangat biadab dan tega. Dia hanya bertelur saja dan ditinggalkan begitu saja.
Tidak mau tahu, menetas atau tidak, selanjutnya makan atau tidak. Mati atau hidup.
Secara akaliah, cicak pasti sudah punah sejak dulu, karena mati kelaparan saat bayi. Bayangkan, makanannya hewan terbang yang lincah, lari ke sana dan lari kemari.
Sedangkan dirinya adalah hewan lemah, klemar-klemer. Pasti tak bisa nangkap nyamuk.
Baca Juga: Kasus KPRI Sejahtera Jombang Dilaporkan ke Kejaksaan, Penyelidikan Mulai Berjalan
Tapi kenyataannya, populasi cicak makin hari semakin banyak.
Itulah sentuhan Tuhan yang Maha Rahman. Mosok, iman kita kalah sama imannya cicak. {bersambung, in sya’ Allah). (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii
Editor : Ainul Hafidz