Setiap musim haji selalu menyisakan dua hal yang menjadi perhatian publik: Kekhusyukan ibadah dan kualitas pelayanan. Keduanya tidak dapat dipisahkan.
Sebab, pelayanan yang baik akan membantu jamaah menjalankan ibadah dengan lebih tenang. Sementara pelayanan yang buruk dapat menguras energi, bahkan mengganggu konsentrasi spiritual.
Karena itu, penyelenggaraan haji sejatinya bukan sekadar urusan administratif, melainkan ikhtiar menghadirkan kenyamanan bagi jutaan tamu Allah.
Musim haji 1447 H/2026 M menunjukkan arah yang menggembirakan. Di bawah kepemimpinan Menteri Haji dan Umrah, Gus Irfan Yusuf, penyelenggaraan haji Indonesia berlangsung relatif tertib dan terkendali.
Baca Juga: P-APBD 2026 Jombang Mulai Dibahas, DPRD Prioritaskan Program Bersentuhan Masyarakat
Di tengah kompleksitas pengelolaan lebih dari dua ratus ribu jamaah Indonesia di Tanah Suci, berbagai tahapan penting dapat dilaksanakan sesuai jadwal.
Ini menjadi modal penting tata kelola haji Indonesia terus bergerak ke arah yang lebih baik.
Ukuran keberhasilan tentu tidak cukup berhenti pada klaim. Indikator paling nyata, menurunnya angka wafat jamaah haji Indonesia.
Hingga akhir operasional, jumlah jamaah yang meninggal dunia berada di kisaran 300 orang. Lebih rendah dibandingkan beberapa musim haji sebelumnya yang mencapai lebih dari 400 orang.
Di balik angka tersebut tersimpan kerja panjang, mulai dari pemeriksaan kesehatan yang lebih ketat melalui konsep istitha’ah, pembinaan kesehatan sebelum keberangkatan, hingga pelayanan medis yang semakin responsif di Arab Saudi.
Di sisi lain, aduan jamaah mengenai pelayanan juga relatif menurun. Memang tidak ada penyelenggaraan haji yang sepenuhnya tanpa masalah.
Namun, berkurangnya keluhan menunjukkan koordinasi antar petugas semakin solid.
Kelancaran mobilisasi jamaah pada Arafah, Muzdalifah, dan Mina, fase yang paling menentukan sekaligus paling padat, menjadi bukti perencanaan yang matang mampu meminimalkan berbagai kendala di lapangan.
Kebijakan Ramah Lansia
Yang menarik, musim haji tahun ini juga diwarnai sejumlah kebijakan yang lebih berpihak kepada kelompok rentan.
Jamaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan mereka yang berisiko tinggi memperoleh prioritas pelayanan. Skema murur di Muzdalifah memberikan kemudahan tanpa mengurangi nilai ibadah.
Baca Juga: Kuota 12 SMAN di Jombang Resmi Penuh, Daftar Ulang SMKN Dimulai 2 Juli
Sementara kebijakan tanazul bagi jamaah yang menempati kawasan Syisyah dan Raudhah membantu mengurangi kepadatan pergerakan menuju Mina.
Kebijakan seperti ini menunjukkan, fikih dapat berjalan beriringan dengan kemanusiaan ketika dikelola secara bijaksana. Keberhasilan tersebut tentu tidak lahir secara tiba-tiba.
Di baliknya ada ribuan petugas haji yang dipersiapkan melalui pendidikan dan pelatihan intensif selama sekitar tiga puluh hari di Asrama Haji.
Mereka ditempa bukan hanya memahami aspek teknis penyelenggaraan, tetapi juga membangun karakter pelayanan: Sigap, disiplin, dan siap hadir kapan pun jamaah membutuhkan bantuan.
Sebagai pembimbing ibadah di tingkat sektor, kami menyaksikan sendiri bagaimana semangat melayani menjadi napas utama seluruh petugas.
Kami memastikan jamaah menuntaskan rangkaian ibadahnya, mulai dari umrah wajib, koordinasi pembayaran dam, pendataan peserta Tarwiyah dan Nafar Tsani, hingga membangun komunikasi yang erat dengan berbagai Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
Kolaborasi semacam inilah yang membuat pelayanan tidak berhenti pada prosedur, melainkan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh jamaah.
Baca Juga: Musim Durian Usai, Pizza Durian Wonosalam Jombang Tetap Diproduksi untuk Wisatawan
Tentu masih ada ruang untuk berbenah. Evaluasi harus tetap menjadi budaya dalam setiap penyelenggaraan haji. Namun, capaian musim haji tahun ini patut menjadi optimisme bersama, pelayanan publik yang profesional, humanis, dan berorientasi pada jamaah bukanlah sesuatu yang mustahil.
Ketika seluruh unsur bekerja dengan satu tujuan, melayani tamu Allah sebaik-baiknya, maka haji tidak hanya menjadi perjalanan menuju Baitullah, tetapi juga cermin hadirnya negara dalam melayani umat. (*)
Penulis:
H Akhmad Kanzul Fikri MPd, Pembimbing Ibadah Daker Makkah dan Pengasuh PP Al Aqobah Jombang
Editor : Ainul Hafidz