
JombangBanget.id - Kebahagiaan dalam Islam tidak selalu ditentukan banyaknya harta, kenyamanan hidup, atau terpenuhinya keinginan.
Salah satu bentuk kebahagiaan yang lebih berharga adalah ketika seorang hamba mendapat taufik dari Allah untuk menjalani kehidupan dalam ketaatan, berakhlak baik, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua MWCNU Kecamatan Jombang, H Moch Wildan Habibie.
Baca Juga: Disdikbud Jombang Siapkan Rp 5,7 Miliar untuk Meja dan Kursi SMPN, Berikut Rinciannya
’’Kata hidup atau al-hayatu identik dengan al-haya'u (malu). Hidup diidentikkan dengan rasa malu. Manusia dianggap hidup jika merasa malu untuk melakukan hal-hal yang dapat merusak agama dan bangsa,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (28/10).
Di Alquran ada tiga makna dasar hidup. Rasa, tahu dan sadar, serta gerak dinamis.
’’Seorang dikatakan hidup menurut Alquran jika memiliki perasaan dalam hidup,’’ terangnya.
Seseorang yang hidup hendaknya mencari tahu tentang tiga hal.
Pertama makna alhayati, arti kehidupan). Kedua sa'adatul hayati, kebahagiaan hidup. Ketiga, khotimatul hayati, akhirul hayat husnul khotimah.
Hidup dalam pandangan Islam berkesinambungan dari kehidupan dunia sampai akhirat. Hidup yang penuh arti dan manfaat bagi lingkungan.
Hidup seseorang dalam Islam diukur dengan seberapa besar ia melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai manusia hidup yang telah diatur oleh agama Islam.
