
Maliki yaum al-din. Sebelumnya telah ditutur sifat Tuhan yang ’’Maliki’’ ini banyak diminati manusia.
Pingin kuasa, pingin pangkat, pingin dihormati, sehingga tidak sedikit yang terjerat dalam perangkap setan ini, wani bondo, wani tukaran, wani jegal-jegalan. Na’udz billah min dzalik.
Yang keblinger adalah ketika dia diumumkan dan resmi terpilih, menjadi pemenang dalam pemilihan.
Baca Juga: PIP 2026 Pakai DTSEN, Sekolah di Jombang Wajib Pastikan Data Siswa Akurat
Lalu, sujud syukur. Iki piye..? Ini jelas sekali, bahwa dia memandang jabatan sebagai rezeki, bukan dipandang sebagai amanah.
Sadarlah, bahwa sujud syukur itu hanya saat menerima kenikmatan materi, ’’Huduts al-ni’mah’’.
Seperti mendapat transferan tak terduga sekian miliar, mendapatkan sauran utang yang lama terlupakan, mendapatkan kesembuhan spektakuler, anaknya lulus dan sebagainya.
’’Maliki yaum al-din’’ mengisyaratkan bahwa pemimpin itu jujur, adil dan bijak seperti keadilan yang diragakan Tuhan nanti di hari akhir.
Salah yo salah, bener yo bener. Tak ada penzaliman meski seberat zarah.
Artinya, seorang pemimpin itu memang harus saleh, tapi kesalehannya bersifat sosial, lebih manfaati bagi orang banyak, pada umat bukan saleh pribadi.
Ketakwaan pemimpin bukan pada salat jamaahnya rajin, puasa sunah Senin dan Kamis, istiqamah baca Alquran, wiridannya panjang, tapi diukur dari kebijakannya.



