Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tafsir Aktual: Victory (4)

A
Penulis: Ainul Hafidz❯
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)

Advertisement

WA ra’aita al-nas yadkhulun fi din Allah afwaja. Kamu menyaksikan sendiri betapa manusia berduyun-duyun memeluk agama Islam.

Sebuah perjalanan akhir dari deretan pejuangan membela islam yang panjang, keras dan melelahkan.

Tidak sekedar kotanya yang dikuasai, bahkan penduduknya yang keras kepala ditundukkan.

Advertisement

Ketundukan mana bukan karena keterpaksaan belaka, justru lebih pada ketundukkan yang didasari jiwa agama secara sempurna.

Memang awalnya demikian, tetapi lambat laun mereka justru menjadi pengikut Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang setia dan punya semangat berkorban.

Advertisement

Abu Sufyan – misalnya – dari pembesar yang disegani di lingkungannya, kini berubah menjadi sahabat mulia dan tetap dihormati. Itu hukum sosial dan dipraktikkan oleh Islam.

Seseorang yang menjadi tokoh di lingkungannya, meski kafir, kini, setelah memeluk Islam tetap ditokohkan.

Diposisikan seperti martabat semula. Islam mengajarkan itu dan Rasulullah mengamalkan kurikulum sosial tersebut.

Dengan islamnya Abu Sufyan dan dia pribadi merasa nyaman dengan perlakuan Islam, merasa tetap terhormat, merasa tidak ada yang hilang dari pamornya, maka itu sungguh pengaruh dakwah yang besar kepada lingkungannya, kepada kaumnya.

Makanya, surah ini membahasakan ’’fath Makkah’’ dengan mengunggah para manusia berduyun-duyun memeluk Islam.

Advertisement

Artikel Terkait

Tafsir Aktual: Victory (5)

Tafsir Aktual: Victory (5)

DENGAN adanya ’’nashrullah’’ dan ’’al-Fath’’ yang berlanjut pada sikap umat manusia berduyun-duyun memeluk agama Islam, kini Tuhan memberi panduan teologis kepada Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam agar teru

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Manusia terbiasa dengan satu pola sederhana: mengambil, menggunakan, lalu membuang. Sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan segera kita beri nama “sampah”.

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa pada 3 Juli 1922 bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan gerakan kebudayaan dan perjuangan bangsa.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer