
ANTARA ’’nashr Allah’’ dan ’’al-fath’’. Nashr, artinya pertolongan, bantuan.
Dalam hal ini, yang dimaksud adalah pertolongan Tuhan untuk umat islam zaman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dulu.
Itulah ’’shulh al-Hudaibiyah’’, kesepakatan berdamai, gencatan senjata antara umat Islam dan wong kafir di daerah di Hudaibiyah.
Lho kok yo aneh, wong kafir yang secara militer waktu itu jauh lebih kuat dan nantang-nantang, kok yo gelem diajak damai.
Itulah sentuhan iradah Tuhan. Cukup dengan meluluhkan hati, pimpinan mereka mau duduk dalam satu meja perundingan. Itu cukup sebagai ’’nashrullah’’, tahap awal.
Meskipun hasilnya nampak berat bagi umat Islam, tetapi nyatanya sangat menguntungkan di sektor akhir.
Antara lain, pertama: Umat Islam memiliki waktu untuk berbenah diri dan mempersiapkan segalanya demi menghadapi kemungkinan pengkhianatan terjadi sewaktu-waktu.
Ini penting dan harus dipegang teguh sebagai pelajaran. Pokoknya jangan percaya mutlak kepada mereka.
Lha wong Gusti Allah saja dikhianati, apalagi manusia. Jadi tidaklah mengherankan, jika Donald Trump, presiden Amerika kala bertarung dengan Iran hari ini dikutuk dunia karena sering mengkhianati, ingkar janji dan menjilat ludah sendiri.
Kedua, ’’Nashrullah’’ di sisi lain terdapat pada kausul yang dipaksakan: Bahwa bila ada sahabat yang masih tinggal di Makkah tetap dijamin aman, tetapi tidak boleh pindah ke Madinah.



