JombangBanget.id - Pengasuh Pondok Pesantren Minhajul Abidin, Janti, Jogoroto, Jombang H Nur Hasan Fadhil, menjelaskan nikmatnya berpuasa.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: Kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhan-nya,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Jannatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (13/3).
Pertama, kebahagiaan saat berbuka. Karena ibadah telah selesai dan karena perut tidak lagi lapar.
Saat azan Magrib berkumandang, rasa lapar dan haus yang ditahan seharian akhirnya terbayar.
Inilah kebahagiaan pertama. Allah Ta’ala berfirman di QS At-Tur 19. Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.
Berbuka bukan sekadar makan, tetapi bentuk rahmat dan hadiah dari Allah setelah kesabaran seharian.
Nabi bersabda; Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.
Sahabat Abdullah bin Masud radiyallahu anhu sangat sederhana saat berbuka. Kadang hanya dengan air dan kurma, namun beliau tampak sangat bahagia.
Dia berkata; Kebahagiaan itu bukan karena makanan yang mewah, tetapi karena taufik dari Allah untuk menyempurnakan puasa.
Kedua, kebahagiaan saat bertemu Allah Ta’ala. Yakni karena tahu pahala yang tak terhingga dan masuk surga.
Kebahagiaan kedua jauh lebih besar, yaitu ketika seorang hamba bertemu Allah Ta’ala dan melihat balasan puasanya.
Baca Juga: Binrohtal: Tiga Amal Paling Dicintai Allah SWT, Nomor Dua Pasti Sering Kita Lupa
Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman: Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.
Ini menunjukkan pahala puasa sangat istimewa dan tidak terbatas.
Allah Ta’ala juga berfirman di QS At-Tur 17. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan.
Hasan al-Basri pernah menangis ketika mendengar hadis ini.
Beliau berkata, ’’Betapa kecilnya kebahagiaan berbuka dibandingkan kebahagiaan saat bertemu Allah.’’
Beliau mengingatkan bahwa orang yang benar-benar memahami puasa akan lebih menantikan balasan akhirat daripada sekadar hidangan berbuka.
Salah satu bentuk kebahagiaan saat bertemu Allah adalah dimasukkan ke dalam surga melalui pintu khusus.
Rasulullah bersabda: Di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan, yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.
Imam Nawawi menjelaskan bahwa Ar-Rayyan berasal dari kata ’’segar/puas minum’’, sebagai balasan bagi orang yang menahan haus di dunia.
Setelah minum airnya maka penghuni surga tidak akan merasakan haus selamanya.
Lapar dan haus menjadi saksi di akhirat. Puasa sering terasa berat, apalagi di tengah aktivitas. Namun setiap rasa lapar dan haus itu tidak sia-sia.
Rasulullah bersabda: Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan melainkan Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.
Syekh Abdul Qadir al-Jilani tetap beribadah dan berdakwah dalam keadaan lapar. Beliau berkata bahwa lapar itu adalah ’’cahaya’’ yang menghidupkan hati.
Baginya, rasa lelah dan lapar justru menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat.
Puasa mengajarkan makna kebahagiaan sejati. Kebahagiaan berbuka mengajarkan kita bahwa nikmat kecil pun terasa besar setelah kesabaran.
Sedangkan kebahagiaan bertemu Allah mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan di dunia, tetapi di akhirat.
Allah berfirman di QS Al-A’la 17. Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Umar bin Khattab pernah berkata; Jika seluruh dunia diberikan kepadanya, itu tidak sebanding dengan satu amal yang diterima oleh Allah Ta’ala.
Ini menunjukkan bahwa orientasi seorang mukmin adalah kebahagiaan akhirat. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz