
IDZA ja’a nashr Allah wa al-fath.
Perlu sekali, kata-kata pada awal surah ini dipreteli, meski tidak detail. Idza, artinya jika, apabila, ketika.
Begitu juga lafadz ’’in’’, terjemah Indonesianya sama.
Ya, tapi bahasa Alquran membedakan. Idza itu untuk pengandaian atas terjadinya sesuatu yang sifatnya biasa dan memang lazim terjadi.
Kata ’’idza’’ pada ayat ini dirangkai dengan kata ’’nashr Allah’’, (bantuan Tuhan) sebagai predikat atau al-fa’il. Ya, memangnya begitu.
Baca Juga: Tambalan Aspal Tak Bertahan Lama, Jalan Jombang-Ploso Kembali Rusak
Bantuan Tuhan itu sering sekali terjadi dan kita nikmati. Cuma kita sendiri yang kadang abai.
Rezeki lancar, terus menerus dan kebutuhan sehari-hari tercukupi. Badan sehat-sehat saja meski cuaca ekstrim. Bisa bangun pagi dalam keadaan sehat, lalu beribadah dan beraktivitas.
Sementara yang bangun pagi dan kakinya kreyeng-kreyeng, leher kaku juga banyak. Bahkan ada yang tak bangun selamanya.
Makanya, kok sampai ada manusia tidak bersyukur ketika bisa bangun pagi itu kebacut and kebangetan..puoll..



