Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mudik, Sungkeman dan Halalbihalal

A
Penulis: Ainul Hafidz❯

Drs H Abu Zahlan Husain M Pd, Wakil Ketua IKA MAN 2 Darul Ulum, Sekretaris FKUB Kabupaten Jombang
Drs H Abu Zahlan Husain M Pd, Wakil Ketua IKA MAN 2 Darul Ulum, Sekretaris FKUB Kabupaten Jombang


Advertisement

MUDIK, sebuah istilah yang sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia, terutama ketika Hari Raya Idul Fitri tiba.

Tradisi mudik merupakan fenomena sosial yang unik. Jutaan orang meninggalkan kota-kota besar untuk kembali ke kampung halaman.

Tujuannya bertemu dengan kedua orang tua, sanak keluarga, teman main semasa kecil, agar bisa merayakan hari raya bersama.

Advertisement

Mudik tidak sekadar perjalanan pulang yang terkadang melelahkan. Melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk kembali ke akar.

Ke tempat di mana hati dan jiwa kita saling bertautan berbalut kerinduan yang "ngangeni".

Setelah sekian bulan bahkan sekian tahun dalam kesibukan dan hiruk pikuk kota, untuk kembali ke kehangatan keluarga dan kampung halaman.

Advertisement

Bagi seseorang yang masih memiliki orang tua, atau saudara, mudik dimanfaatkan untuk sungkem. Sebuah tradisi khas Indonesia yang tak terpisahkan dari mudik.

Kita duduk bersimpuh, meminta maaf dan memohon doa restu orang tua agar diberikan kehidupan yang lebih baik.

Dalam tradisi sungkem, kita diingatkan akan pentingnya menghormati orang tua dan leluhur. Serta menjaga silaturahmi dengan keluarga dan masyarakat.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman di QS Annisa 1: Dan bertaqwalah kepada Allah, dan tetaplah bersilaturrahim.

Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silatrahim. (HR Bukhari Muslim).

Saudaraku, kehidupan yang kita jalani dengan berbagai ragam kesibukan pekerjaan ataupun profesi yang ditekuni, terkadang mengalami titik jenuh.

Perlu "refresh" agar pasca mudik dan kembali ke kota dalam suasana yang segar bugar sehingga berdampak positif pada lingkungan kerja, kinerja dan produktifitas.

Mudik tidak jarang juga menimbulkan problem sosial.

Keberhasilan dari status sosial saudara yang bekerja di kota dapat menjadi magnet pemicu urbanisasi masyarakat desa yang kepingin ikut ke kota untuk mengubah nasib.

Sehingga perlu antisipasi dari berbagai lintas sektoral pemangku kebijakan, agar tidak menimbulkan problem yang baru.

Mudik, sungkeman dan halalbihalal, sebuah tradisi yang tak terpisahkan dari Idul Fitri dan kearifan bangsa Indonesia.

Kita saling memaafkan dan meminta maaf, untuk memulai lembaran baru dengan hati yang bersih.

Halalbihalal bukan hanya tentang meminta maaf atas kesalahan, melainkan juga tentang memaafkan dan "menzerokan" kesalahan diri dan orang lain.

Dalam tradisi halalbihalal, kita juga selalu diingatkan akan makna  pentingnya nilai-nilai merajut ukhuwah dan membingkai marhamah.

Menjaga hegemoni persatuan dan kesatuan dalam arti luas.

Karena Indonesia adalah rumah besar milik kita bersama, yang harus kita jaga dan kita rawat bersama.

Agar masyarakat Indonesia selalu guyup rukun, aman, kondusif, toleran, adil, dan sejahtera.

Sebagaimana yang dicita-citakan oleh para founding father menjadi baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.

Masyarakat Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, toto tentram, kerto raharjo.

Tradisi mudik, sungkeman, dan halalbihalal merupakan bagian  budaya turun temurun bangsa Indonesia.

Ini mengajarkan kita tentang pentingnya kembali ke akar, menghormati orang tua, dan menjaga silaturahmi.

Tradisi ini juga mengingatkan kita akan pentingnya refleksi diri, bertobat, dan rekonsiliasi, untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik dan harmonis.

Di era kekinian, tradisi-tradisi ini masih sangat relevan dan penting, karena  mengajarkan kita tentang nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, dan kesatuan.

Mari tetap kita lestarikan dan jaga, agar kita dapat terus merasakan kehangatan keluarga, kampung halaman, dan masyarakat.

Serta menjadikan Indonesia yang lebih baik, sejahtera serta bermartabat. (*)

Penulis:

Drs H Abu Zahlan Husain M Pd, Wakil Ketua IKA MAN 2 Darul Ulum, Sekretaris FKUB Kabupaten Jombang

Advertisement

Artikel Terkait

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Manusia terbiasa dengan satu pola sederhana: mengambil, menggunakan, lalu membuang. Sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan segera kita beri nama “sampah”.

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa pada 3 Juli 1922 bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan gerakan kebudayaan dan perjuangan bangsa.

Tamu Kehormatan

Tamu Kehormatan

’’BARANG siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.’’ (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini berakar dari kisah Nabi Ibrahim yang kedatangan tamu orang asing di rumahnya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer