Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bulan Ramadan sebagai Cerminan Diri

A
Penulis: Ainul Hafidz❯

Ni'maturrohmah MPd, Wakakurikulum SMA A Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang
Ni'maturrohmah MPd, Wakakurikulum SMA A Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang


Advertisement

AROMA sejuk yang dihembuskan bulan Ramadan sangat dirindukan dan dinantikan oleh banyak kaum muslim baik dewasa remaja.

Bahkan anak-anak semua merindukan suasana yang hampir setiap waktunya terdengar bacaan Alquran yang menenangkan menyejukkkan hati.

Bedug ditabuh saat dini hari memberikan penanda bahwa saatnya untuk melakukan sebagian kesunahan yang dianjurkan.

Advertisement

Sebetulnya para pendahulu kita sudah memberikan contoh hal-hal baik yang menjadi bukti bahwa mereka sangat menyayangi kita.

Mereka ingin kita dapat menjalankan ibadah baik yang dianjurkan dan hal-hal yang dilarang.

Sebagaimana tertulis dalam firman Allah Surat Albaqarah ayat 183; Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Advertisement

Jika dikupas dari arti ayat tersebut, terdapat sangat besar makna  yang tersurat dan tersirat  didalamya.

Terdapat hikmah puasa khususnya di bulan Ramadan yang sebetulkan kita sudah paham tetapi tak jarang kita melewatkannya karena kesibukan yang kita lakukan.

Allah  Ta’alla memiliki 12 bulan yang di antaranya terdapat satu bulan yang segala amal baik dilipatgandakan pahalanya bagi yang melakukannya dengan penuh keimanan dan ketakwaan.

Bukan karena ingin dipuj. Bukan karena ingin dilihat oleh sesama manusia agar dianggap sebagai manusia ahli ibadah.

Terlepas dari hal di atas, bulan Ramadan memiliki makna dan hikmah puasa Ramadan.

Meningkatkan ketakwaan: Menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan meningkatkan kesadaran spiritual.

Contoh kecil yang bisa dilakukan selain bulan puasa nungkin kita hanya membaca satu juz satu hari.

Tetapi di bulan puasa ini kita bisa melakukan satu hari bisa sampai 3 – 5 juz. Barokalloh fi ibadi.

Melatih disiplin: Mengatur pola makan, dan perilaku (menahan emosi/perbuatan tercela). Contoh kecil yang bisa dilakukan. Biasanya kita makan satu hari tiga kali.

Belum lagi ngemil dan makan yang mungkin oleh tubuh tidak dibutuhkan ini dilakukan di bulan selain Ramadan.

Tetapi di bulan Ramadan kita mengajak komponen tubuh untuk bisa saling menjaga dengan jadwal makan yang sudah diatur.

Menumbuhkan kembali empati sosial yang hal ini mungkin kita juga pernah mengalaminya. Contoh kecil lainnya dari hikmah puasa, saling berbagi takjil.

Walaupun hal itu kecil nominalnya bagi seorang muslim yang yang memiliki kelebihan harta.

Bahkan tidak menutup kemungkinan yang hanya cukup dalam rezekinya. Mereka mau berbagi yang mungkin jika diuangkan tidak lebih dari Rp 10.000.

Proses memperbaiki dan membersihkan diri. Kita tidak tahu dosa kita sebesar apa dan juga kita tidak tahu amal kebaikan dan doa kita mana yang diterima oleh Allah Ta’ala.

Bulan Ramadan ini menjadi wadah besar kita untuk menutup kekurangan, menghapus kesalahan, dan menambah catatan amal kebaikan.

Sehingga dapat menjadikan diri kita sebagai insan kamil. Allah Ta’ala pasti mengkabulkan setiap harapan dan impian kita. Amin ya robbal ‘alamin. (*)

Penulis:

Ni'maturrohmah MPd, Wakakurikulum SMA A Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang

 

Advertisement

Artikel Terkait

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Manusia terbiasa dengan satu pola sederhana: mengambil, menggunakan, lalu membuang. Sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan segera kita beri nama “sampah”.

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa pada 3 Juli 1922 bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan gerakan kebudayaan dan perjuangan bangsa.

Tamu Kehormatan

Tamu Kehormatan

’’BARANG siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.’’ (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini berakar dari kisah Nabi Ibrahim yang kedatangan tamu orang asing di rumahnya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer