JombangBanget.id - Kecintaan Anom Antono, SSn terhadap dunia pewayangan telah tumbuh sejak kecil.
Lahir dari keluarga dalang, berhasil mengantarkan Anom mengabdi sebagai aparatur sipil negara (ASN) di bidang kebudayaan.
Lelaki kelahiran Desa Gabusbanaran, Kecamatan Tembelang, Jombang 16 November 1973 itu dikenal getol memperjuangkan pelestarian budaya lokal, mulai dari mengusulkan warisan budaya tak benda hingga menghidupkan kembali minat generasi muda terhadap seni wayang.
Bakat mendalang diwarisinya dari sang ayah, Hadi Carito. Sejak kecil, Anom telah terbiasa mengikuti berbagai pementasan wayang.
Bahkan, ketika ayahnya memiliki jadwal pertunjukan yang padat, ia kerap diminta menggantikan tampil di depan masyarakat.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Gabusbanaran 1 dan SMPN 1 Ploso.
Menyadari bakat putranya di bidang seni, sang ayah kemudian mengarahkan Anom melanjutkan pendidikan di SMKI Surakarta, yang kini menjadi SMKN 8 Surakarta, jurusan Seni Pedalangan.
”Saya tidak pandai kimia dan matematika, sehingga bapak menyekolahkan saya di jurusan seni pedalangan," kenangnya.
Selepas lulus sekolah menengah, kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus menunda kuliah selama setahun.
Namun masa itu tidak disia-siakan. Ia justru semakin aktif memenuhi undangan masyarakat untuk menjadi dalang dalam berbagai acara, mulai hajatan khitanan, resepsi pernikahan hingga sedekah desa.
”Sejak lulus SMK saya sering diundang warga untuk ndalang," ujar pria yang menjabat Kepala Bidang Kebudayaan Dinas P dan K Jombang ini.
Honor dari setiap pementasan kemudian menjadi bekal untuk mewujudkan cita-citanya melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta yang kini berubah nama menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Selama kuliah, ia berusaha mandiri dengan membiayai pendidikannya dari hasil mendalang hingga akhirnya lulus pada 2001.
Baca Juga: Solar Subsidi Langka, Sopir di Jombang Sampai Berburu BBM ke Sidoarjo
Setelah kembali ke Jombang, Anom memulai karier sebagai tenaga honorer di Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga pada 2003. Dua tahun kemudian, ia berhasil lolos seleksi pegawai negeri sipil (PNS).
Pengalaman panjang sebagai seniman sekaligus birokrat membuatnya dipercaya menangani bidang sejarah dan nilai budaya, hingga kini menjabat Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Jombang.
Selama mengemban amanah tersebut, Anom dikenal konsisten memperjuangkan pengakuan budaya lokal agar memperoleh status Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
”Itu kami lakukan agar di kemudian hari tidak diklaim menjadi warisan budaya orang lain," katanya.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Tradisi Riyaya Unduh-unduh GKJW Mojowarno berhasil ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2020.
Disusul Tari Remo Boletan yang memperoleh pengakuan pada 2024.
Tak hanya fokus pada legalitas budaya, Anom juga berupaya memastikan seni tradisi tetap hidup di tengah masyarakat.
Salah satunya melalui program Wayang Masuk Sekolah, yang mengenalkan wayang kepada siswa SD dan SMP sebagai media pendidikan karakter sekaligus regenerasi dalang, pengrawit, dan pelaku seni tradisi. (ang)
Editor : Ainul Hafidz