JombangBanget.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, mengingatkan umat agar tidak menjadikan ibadah sebagai rutinitas yang membosankan.
Melainkan menjalankannya dengan sukacita sebagai respons atas kebaikan dan kesetiaan Tuhan.
’’Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!’’ tuturnya, mengutip Mazmur 100:2.
Baca Juga: Bakar Daun Tebu, Lansia di Diwek Jombang Ditemukan Tewas
Pernahkah kita mengalami satu keadaan dimana kita berat untuk datang beribadah.
Seperti ada satu keadaan bahwa ibadah hanya menjadi rutinitas yang membosankan. Tidak sedikit orang percaya beribadah ditentukan suasana atau keadaan hatinya sehingga beribadah menjadi terpaksa.
Tidak lagi didasarkan atas kerinduan untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan.
Ayat bacaan kita di atas merupakan ajakan untuk beribadah dengan sukacita, datang ke hadapan Tuhan dengan sorak-sorai.
Baca Juga: Lolos dari Kecelakaan Maut Tol Jombang-Mojokerto, Lidia Terlempar Saat Tidur
Penekanannya bahwa "ibadah harus dilakukan dengan hati yang penuh sukacita sebagai respons atas kebaikan dan kesetiaan Tuhan".
Beribadah kepada Tuhan seharusnya tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai suatu kesenangan dan kegembiraan.
Datang beribadah dengan menunjukkan semangat dan kegembiraan yang mendalam.
Mazmur ini dimulai dengan seruan agar seluruh bumi bersorak-sorai kepada Tuhan (ay. 1).
Ini merupakan panggilan untuk datang kepada Tuhan dengan perasaan penuh syukur dan kebahagiaan karena Ia adalah Allah yang telah menciptakan kita dan kita adalah milik kepunyaan-Nya.
Betapa pentingnya ibadah yang dilakukan dengan sukacita, bukan karena kewajiban.
Baca Juga: Bus Pemkab Jombang Bawa Rombongan Teater Selamat dari Kecelakaan di Tol
Dalam ibadah, seharusnya kita melayani dan menyembah Tuhan dengan sukacita dan semangat, bahkan di tengah kesulitan atau pergumulan hidup, "karena rasa sukacita itu datang dari perjumpaan dan hubungan dengan Tuhan sendiri."
Kita diajak untuk hidup dalam kesadaran akan kebaikan Tuhan sehingga ibadah menjadi ekspresi syukur dan kesenangan, bukan beban.
Sekali lagi, "ibadah yang penuh sukacita bukan karena kewajiban, tapi karena sukacita mengalami perjumpaan dengan Tuhan."
Ibadah sejati bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi ekspresi hati yang gembira karena mengenali siapa Tuhan yang kepadanya kita datang beribadah.
Baca Juga: Pembangunan Huntap Korban Longsor Wonosalam Jombang Diajukan di APBD 2027
Meskipun dalam suka maupun duka, kita diajak untuk tetap datang kepada Tuhan dengan sukacita karena Ia adalah sumber kekuatan dan penghiburan.
Tuhan mau kita beribadah sebagai gaya hidup dalam keadaan baik atau tidak baik.
Sukacita dalam ibadah tidaklah hanya sebatas di gereja, tetapi juga tercermin dalam semua aspek kehidupan sehari-hari seperti pekerjaan atau tugas lainnya, ketika semua dilakukan untuk kemuliaan Tuhan.
’’Ibadah yang penuh sukacita itu memuliakan Tuhan dan bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tuhan ingin kita mengalami kepenuhan hidup dan sukacita, bukan keputusasaan, dan ibadah adalah cara untuk mewujudkannya. Tuhan Yesus memberkati,’’ ungkapnya. (jif/ang)
Editor : Ainul Hafidz