Binrohtal: Saat Disakiti, Ingat Cara Nabi Membalas dengan Kebaikan

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:15 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Ketika disakiti, umat Islam diajak mengingat teladan Nabi Muhammad SAW yang memilih memaafkan dan berbuat baik daripada membalas dengan kemarahan.

Pesan itu disampaikan Ustad Hambali saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (21/8), dalam momentum Maulid Nabi.

’’Maulid merupakan momentum untuk mengingat kelahiran Rasulullah sekaligus mengukur sejauh mana kecintaan kita kepada beliau. Serta sejauhmana kita meneladani akhlaknya,’’ tuturnya.

Baca Juga: 300 Ton Limbah B3 di Jombang Diangkut, Sisa Segini yang Belum Dipulihkan

Allah Ta’ala berfirman di QS Ali Imran 31; Katakanlah (Muhammad), ’’Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’’

Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Bukti cinta yakni mengikuti orang yang dicintai. Jika kita mengaku mencintai Rasulullah, maka harus berupaya mengikuti kehidupan beliau.

Allah bahkan memuji akhlak Rasulullah di QS Al-Qalam 4.

Baca Juga: BPK Turun Audit Proyek Sekolah Rakyat Jombang, Ini Kondisinya

Rasulullah bukan hanya mengajarkan akhlak dengan perkataan, tetapi menjadi contoh nyata dalam kehidupan.

Nabi lemah lembut dan mudah memaafkan. Suatu ketika seorang Arab Badui datang kepada Nabi dan menarik kain selendang Nabi dengan keras hingga meninggalkan bekas pada leher beliau.

Orang itu kemudian meminta sesuatu kepada Rasulullah.

Secara manusiawi, perlakuan seperti itu tentu menyakitkan. Tetapi Rasulullah tidak membalas dengan kemarahan.

Beliau justru tersenyum dan memberikan apa yang diminta. Sehingga akhirnya orang itu masuk Islam. 

Dalam kehidupan kita, mungkin ada tetangga yang membuat kesal, teman yang mengecewakan, keluarga yang berkata menyakitkan, atau seseorang yang melakukan kesalahan kepada kita.

Di situlah cinta kepada Rasulullah diuji.

Baca Juga: Begini Respons Rais Aam Saat Tinjau Persiapan Muktamar NU di Tambakberas Jombang

Ketika marah, kita bisa berkata, ’’Saya ingin meneladani Nabi.’’
Ketika disakiti, kita berkata, ’’Saya ingin belajar memaafkan sebagaimana Nabi.’’

Ketika memiliki kesempatan membalas, kita memilih menahan diri. Inilah salah satu bentuk nyata merayakan Maulid.

Rasulullah sangat dermawan. Nabi tidak pernah tidur membawa uang karena sebelum tidur semua uang dihabiskan.

Suatu ketika Nabi ngimami salat Asar lalu ingat masih punya uang. Usai salam Nabi langsung  pulang mengambil uang itu dan menyedahkankannya.

Baca Juga: Sudah Akhir Agustus, Begini Progres 80 Proyek PJU Skema PIK di Jombang

Berbuat baik tidak harus menunggu kaya. Sedekah tidak selalu berupa uang.

Membantu orang tua, memberikan makanan kepada teman, membantu tetangga, memberikan ilmu, menolong orang yang kesulitan, bahkan tersenyum kepada sesama muslim juga termasuk kebaikan.

Rasulullah bersabda: Setiap kebaikan adalah sedekah. 

Rasulullah sangat menghargai manusia. Nabi tidak membuat orang yang berbicara merasa diabaikan.

Beliau mendengarkan, memperhatikan dan memberikan penghormatan kepada orang lain.

Jarir bin Abdullah radiyallahu anhu berkata: Rasulullah tidak pernah menghalangiku sejak aku masuk Islam dan setiap kali melihatku, beliau tersenyum kepadaku.

Baca Juga: Magang Jauh dari Jombang Saat TKA? Siswa Bisa Ujian di Sekolah Terdekat

Ketika orang tua berbicara, dengarkan. Ketika guru memberikan nasihat, perhatikan. Ketika teman bercerita, jangan sibuk dengan telepon genggam.

Ketika seseorang sedang menyampaikan pendapat, jangan buru-buru memotong.

Hal-hal sederhana seperti itu bisa menjadi bentuk nyata meneladani Rasulullah.

Suatu ketika, seorang Arab Badui kencing di masjid. Para sahabat hendak memarahinya. Namun Rasulullah justru meminta para sahabat membiarkannya terlebih dahulu.

Baca Juga: Bank Penyalur Belum Siap Diperiksa Jaksa, Begini Nasib Kasus KPRI Sejahtera Jombang

Setelah orang itu selesai, Rasulullah menjelaskan dengan lembut bahwa masjid bukan tempat untuk kencing.

Beliau kemudian meminta agar tempat itu dibersihkan. Nabi tidak mempermalukan orang tersebut di hadapan banyak orang. Nabi mendidik dengan kelembutan.

Orang yang melakukan kesalahan belum tentu harus kita benci.

Kesalahannya diperbaiki, sementara orangnya tetap kita perlakukan dengan baik. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
membalas Kebaikan nabi Binrohtal Jombang