Binrohtal: Sudah Merdeka dari Penjajahan, tapi Apakah Hati Kita Merdeka?

JombangBanget.id - Peringatan kemerdekaan Indonesia dapat menjadi momen untuk merefleksikan kemerdekaan hati dari amarah, dendam, iri hati, kesombongan, dan hawa nafsu.
Pesan itu disampaikan Pengurus MWCNU Kecamatan Mojoagung, H Ainul Mubin dalam kajian di Polres Jombang, Rabu (19/8).
’’Kita perlu mensyukuri kemerdekaan dari penjajah 17 Agustus 1945. Tapi kita juga perlu meraih kemerdekaan hakiki dari amarah dan nafsu,’’ tuturnya.
Baca Juga: Tafsir Aktual: Al-Fatihah (13) KPK-NU
Kemerdekaan jiwa yakni ketika seseorang tidak lagi diperbudak oleh amarah, hawa nafsu, keserakahan, dan keinginan buruk.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Orang kuat yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
Hawa nafsu sering mengajak manusia kepada sesuatu yang menyenangkan sesaat, tetapi dapat membawa penyesalan panjang.
Nafsu berkata, ’’Balas!’’ Akal sehat berkata, ’’Maafkan.’’ Nafsu berkata, ’’Ambil!’’ Iman berkata, ’’Itu bukan hakmu.’’
Nafsu berkata, ’’Ikuti keinginanmu!’’ Takwa berkata, ’’Tahanlah karena Allah.’’
Perjuangan melawan hawa nafsu dan mengendalikan amarah pada awalnya membutuhkan perjuangan yang berat.
Namun, jika seseorang terus melatih dirinya, sifat sabar dan pemaaf dapat menjadi kebiasaan.
