Usai Santap MBG, 256 Siswa SMPN 1 Kabuh Jombang Diduga Keracunan

Achmad RW • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 07:19 WIB
DIRAWAT: Sejumlah siswa masih menjalani perawatan di Puskesmas Kabuh, Jombang hingga Kamis (3/9) siang. (Achmad RW/Radar Jombang)
DIRAWAT: Sejumlah siswa masih menjalani perawatan di Puskesmas Kabuh, Jombang hingga Kamis (3/9) siang. (Achmad RW/Radar Jombang)

JombangBanget.id – Sedikitnya 256 siswa SMPN 1 Kabuh, Jombang, diduga mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (2/9).

Para siswa mengalami sejumlah gejala kesehatan, mulai diare, mual, muntah, pusing, sakit perut hingga lemas.

Bahkan, empat guru disebut ikut merasakan gejala serupa.

Baca Juga: Student Journalism: Kunci Menghafal Quran

Sejumlah siswa mengaku keluhan tersebut muncul setelah mereka menyantap MBG di sekolah. Salah satunya AZ, siswi kelas IX SMPN 1 Kabuh.

Dia mengaku mulai merasakan gejala aneh setelah pulang sekolah. Perutnya terasa sakit dan begah. Dia juga mengalami pusing serta mual.

”Perut itu rasanya sakit, tapi begah juga, enggak enak. Terus agak pusing, pusingnya itu pusing yang sakit gitu. Terus mual juga,” ujarnya saat menjalani perawatan di Puskesmas Kabuh, Kamis (3/9).

AZ akhirnya teringat, Rabu (2/9) siang, ia menyantap menu MBG di sekolah.

Baca Juga: Jemaah Umrah Jombang Tertahan di Surabaya, Menhaj Ingatkan Pilih Travel

Dia mengaku sempat ragu menyantap makanan lantaran mencium aroma tidak sedap dari udang. Namun karena lapar, ia tak punya pilihan lain kecuali harus menyantap makanan.

”Menunya ada udang, tahu, dan sayur sawi, dan nasi putih. Sebenarnya saya ragu karena udangnya keluar bau nggak enak banget,” ungkapnya.

Keluhan juga dialami sejumlah teman sekelasnya. Mereka juga mengalami gejala mules, pusing hingga diare setelah menyantap MBG. ”Di kelas saya ada enam anak,” katanya.

Kepala SMPN 1 Kabuh Suprihadiono mengatakan baru mendapat informasi Rabu sore saat semua siswa sudah pulang sekolah.

Sejumlah siswa mengeluhkan gejala sakit perut dan mules serta berulang kali buang air besar. Mereka kemudian dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan medis.

”Ada yang mengeluhkan sakit perut, mules, diare, bahkan beberapa guru juga mengalami gejala yang sama,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, jumlah siswa yang mengeluhkan gejala keracunan terus bertambah. Pada Kamis pagi ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung, siswa silih bergantian meminta izin ke toilet. Keluhannya sama, pusing, mual dan diare.

Baca Juga: Banyak Fasilitas di Sekolah Rakyat, Pemkab Jombang Usul Tambah Rambu Peringatan

”Yang izin ke belakang semakin lama kok semakin banyak, lalu dibawa ke UKS,” katanya.

Pihak sekolah kemudian berkoordinasi dengan SPPG Mangunan dan fasilitas kesehatan untuk penanganan siswa.

Dari hasil pendataan awal, tercatat ada sekitar ratusan siswa yang mengalami gejala yang sama.

”Ada yang dirawat di Puskesmas Kabuh, klinik pratama, Asy-Syifa dan ada yang berobat mandiri. Setelah diberikan obat, sudah diperbolehkan pulang,” bebernya. 

Setiap hari, SMPN 1 Kabuh menerima sebanyak 689 porsi menu MBG dari SPPG Mangunan untuk kebutuhan siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Program tersebut sudah berjalan sejak Oktober 2025.

”Selama ini tidak pernah muncul persoalan,” bebernya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang, dr Hexawan Tjahja Widada menyebut, data korban diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG terus bergerak.

”Data sementara yang masuk di kami ada sekitar 256 orang. Datanya masih bergerak terus,” terangnya, Kamis (3/9) sore.

Ia memerinci, dari jumlah tersebut, tujuh orang masih menjalani rawat inap di Puskesmas Kabuh untuk mendapatkan rehidrasi karena kondisi lemas.

Sementara 74 orang menjalani rawat jalan di puskesmas maupun klinik, termasuk Klinik Mitra Plus dan Klinik As-Syifa.

Baca Juga: Binrohtal: Merdeka Sejati Bukan Hanya Bebas dari Penjajahan

”Selain pasien yang mendapat penanganan di fasilitas kesehatan, terdapat 175 orang yang memilih berobat secara mandiri. Data tersebut diperoleh dinkes dari pendataan pihak sekolah,” bebernya.

Hexa menjelaskan, banyak warga sekolah awalnya mengira keluhan yang dialami hanya diare biasa. Sebab, gejala baru muncul beberapa jam setelah makanan disantap.

”Makanannya itu kemarin (2/9). Dipikir diare biasa, ternyata dihitung banyak,” katanya.

Makanan MBG dikonsumsi sekitar pukul 11.30. Menurut Hexa, keluhan mulai muncul sekitar pukul 17.00 setelah para siswa pulang ke rumah.

Baca Juga: Gus Sentot Ajak Anak KB-TK Muslimat 7 Jombang Cintai Nabi

Gejala yang dialami antara lain diare, mual, muntah, dan sebagian mengalami kondisi lemas.

”Pulang di sekolah, di rumahnya itu baru ada yang diare, ada mual-mual, muntah seperti itu,” ujarnya.

Dari pola keluhan yang dialami banyak orang dengan gejala serupa, Dinkes melihat adanya dugaan intoleransi makanan atau persoalan kualitas makanan.

”Diare, mual-mual, terus kemudian ada yang sebagian muntah. Itu tanda-tanda dari adanya intoleransi makanan atau kualitas makanan,” jelas Hexa. (riz/naz)

Editor : Ainul Hafidz
Mbg siswa keracunan SMPN 1 Kabuh Jombang