JombangBanget.id – Sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) yang berada di kawasan padat penduduk dan berada di tengah kota justru masih kesulitan mendapatkan siswa baru pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Diduga, masyarakat kehilangan kepercayaan karena minimnya tenaga pendidik.
’’Mungkin karena kekurangan guru,’’ kata Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, Rhendra Kusuma, saat dikonfirmasi, Kamis (9/7).
Menurutnya, ketercukupan guru menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan pendidikan di sekolah.
Baca Juga: 118 Guru TK dan SD Negeri di Jombang Dimutasi, Dinas P dan K Tekankan Disiplin dan Profesionalisme
Ketika jumlah guru tidak ideal, proses pembelajaran berpotensi kurang maksimal sehingga dapat memengaruhi minat orang tua menyekolahkan anaknya.
Kepala SDN Jombatan 1 Kecamatan Jombang, Wiji Utami, mengatakan, sekolah yang dipimpinnya hanya memperoleh empat siswa baru pada SPMB tahun ini.
Padahal, sekolah tersebut berada di kawasan padat penduduk, berada di tengah kota, bahkan di sisi jalan strategis.
Ia mengaku belum bisa memastikan penyebab rendahnya minat masyarakat karena baru beberapa waktu bertugas di sekolah tersebut.
Namun, pihaknya berkomitmen meningkatkan kualitas layanan agar kepercayaan masyarakat kembali tumbuh.
’’Kami masih mempelajari karakteristik masyarakat di sekitar sekolah. Ke depan kami akan terus meningkatkan program dan pelayanan supaya masyarakat semakin percaya menyekolahkan anaknya di sini,’’ terangnya.
Menurut Wiji, lokasi sekolah yang berada di tepi jalan menjadi potensi tersendiri untuk memperkenalkan wajah baru sekolah kepada masyarakat. Ia berharap konsep tersebut mampu menarik perhatian warga yang melintas setiap hari.
’’Banyak orang lewat di depan sekolah, saya ingin menunjukkan ada perubahan. Harapannya masyarakat jadi tertarik dan bertanya, sekolah ini punya kegiatan apa,’’ paparnya.
Jumlah guru di SDN Jombatan 1 memang kurang. Sehingga PPPK Paruh Wakyu yang sebetulnya bertugas di layanan operasional harus masuk ke dalam kelas menjadi guru kelas.
Baca Juga: Dinas PUPR Jombang Mulai Lebarkan Jembatan Sempit, Ruas Ini Jadi Salah Satu Prioritas
’’SDN Jombatan 1 juga tak memiliki guru olahraga,’’ ucapnya.
Ditanya apakah hal tersebut menjadi salah satu sebab minimnya minat masyarakat menyekolahkan anaknya di SDN Jombatan 1, Wiji tak berani memastikan.
’’Sebenarnya guru memang kurang sehingga PPPK PW saya masukan dalam kelas dan guru olahraga pun tidak ada. Apakah itu menjadi salah satu sebab jumlah yang daftar sedikit, saya kurang tahu,’’ jelasnya.
Wiji mengakui belum bisa banyak melakukan sosialisasi SPMB karena baru bertugas di SDN Jombatan 1 saat masa libur sekolah. Namun, ia memastikan akan fokus membangun citra sekolah melalui berbagai program yang melibatkan siswa.
Kondisi serupa juga dialami SDN Mojongapit 3. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Mojongapit 3, Ni'matur Rohmah, mengatakan, sekolahnya hanya memperoleh satu siswa baru pada SPMB tahun ini.
Hasil komunikasi dengan sejumlah calon wali murid yang sempat berminat menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap proses pembelajaran di sekolah.
’Beberapa tahun terakhir, jumlah siswa yang sedikit ditambah minimnya jumlah guru membuat sekolah mengambil kebijakan untuk menggabung dua kelas menjadi satu.
’’Kalau kata calon wali murid yang batal mendaftar, karena kelasnya sering digabung selama setahun terakhir. Mereka khawatir anaknya nanti kurang mendapat perhatian dan tidak terurus di sekolah,’’ bebernya.
Ia mengakui, selama ini SDN Mojongapit 3 memang mengalami kekurangan guru. Dari enam rombongan belajar, hanya tersedia dua guru kelas sehingga beberapa guru mata pelajaran harus merangkap menjadi guru kelas.
Baca Juga: Skema Baru Program PK 2027 Jombang, PJU Masuk Prioritas Anggaran Kecamatan
”Memang secara nyata hanya ada dua guru kelas. Guru mata pelajaran lain akhirnya ikut merangkap sebagai guru kelas untuk memenuhi kebutuhan kelas 1 sampai kelas 6,” katanya.
Kondisi tersebut mulai teratasi setelah sekolah menerima tambahan tiga guru hasil mutasi dengan SK tertanggal 30 Juni 2026. Namun, mutasi tersebut dinilai terlambat karena proses SPMB telah selesai.
’’Sebenarnya cukup terlambat karena SPMB SD sudah ditutup,’’ imbuhnya.
Saat ini, jumlah peserta didik di SDN Mojongapit 3 tergolong minim. Kelas 1 hanya dihuni satu siswa, kelas 2 lima siswa, kelas 3 lima siswa, kelas 4 11 siswa, kelas 5 empat siswa, dan kelas 6 12 siswa.
Dengan tambahan guru yang telah diterima, sekolah berharap kualitas pembelajaran meningkat dan kepercayaan masyarakat kembali tumbuh pada pelaksanaan SPMB tahun mendatang. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz