JombangBanget.id – Perjalanan hidup dan karier Siyadi SPd MPd menjadi gambaran nyata pendidikan mampu mengubah masa depan seseorang.
Lahir di Lamongan pada 5 Desember 1972, ia kini menjabat sebagai kepala SMAN Plandaan sejak 2022.
Siyadi tinggal di Jalan Sidopulo II RT 002 RW 004, Desa Losari, Kecamatan Ploso. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN Wateswinangun II, kemudian melanjutkan ke SLTP Harapan Kambangan dan SMA Diponegoro Ploso.
Ketertarikannya terhadap salah satu mata pelajaran serta latar belakang sebagai anak dari keluarga kurang mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ia menempuh pendidikan S-1 di IKIP Malang yang sekarang Universitas Negeri Malang. Ini menjadi titik awal perjalanan kariernya sebagai guru. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan S-2 di UNIPA Surabaya untuk memperkuat kompetensi di bidang pendidikan.
Kariernya dimulai sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) di SMAN Kabuh, Jombang. Ia juga pernah mengajar di SMA dan SMK Diponegoro Ploso, menunjukkan komitmennya dalam dunia pendidikan sejak awal.
Pada 2003, ia diangkat sebagai Guru Bantu di SMA PGRI Ngimbang. Di sekolah tersebut, ia dipercaya mengemban tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum periode 2003 hingga 2008.
Kariernya semakin berkembang ketika ia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 2008 dan ditempatkan di SMAN Bluluk, Lamongan. Di sana, ia kembali dipercaya sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum hingga 2022.
Puncak karier kepemimpinannya dimulai saat ia ditunjuk sebagai kepala SMAN Plandaan sejak 2022 hingga sekarang.
Bagi Siyadi, menjadi guru bukanlah pilihan yang kebetulan. Melainkan perjalanan hidup yang dipengaruhi oleh latar belakang dan tekad kuat untuk mengubah nasib.
’’Berlatar belakang dari anak orang tidak mampu yang ingin sukses, serta karena kesenangan terhadap salah satu mata pelajaran, akhirnya saya melanjutkan kuliah di IKIP Malang dan menjadi guru,’’ terangnya.
Selama menjadi pendidik, ia merasakan kepuasan tersendiri ketika ilmu yang disampaikan dapat dipahami oleh siswa.
Baca Juga: Uji Publik Hafalan Alquran, Siswa MTsN 2 Jombang Tunjukkan Kemampuan
”Tidak ada yang lebih membanggakan selain melihat anak didik kita mencapai cita-citanya dan menjadi orang yang dibutuhkan banyak orang,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi motivasi utama bagi dirinya untuk terus berkontribusi dalam dunia pendidikan. Meskipun harus menghadapi berbagai keterbatasan, khususnya saat memimpin sekolah di wilayah pinggiran.
Sebagai pemimpin di sekolah pinggiran, Siyadi mengaku menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Tantangan tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berkaitan dengan kebijakan dan dinamika eksternal.
Beberapa tantangan utama yang dihadapi antara lain kesenjangan kualitas dan sumber daya antara sekolah di kota dan pinggiran. Kebijakan kurikulum yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Serta kondisi mental siswa yang semakin akrab dengan gawai atau ponsel.
”Kalau bicara jujur, tantangan itu tidak kecil. Banyak tekanan yang harus dihadapi, baik dari kebijakan yang berubah cepat maupun kondisi di lapangan,” ungkapnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia menerapkan berbagai strategi yang disesuaikan dengan kondisi sekolah. Salah satu fokus utamanya adalah pemenuhan sarana dan prasarana yang masih terbatas.
Sebagai sekolah di wilayah pinggiran, SMAN Plandaan menghadapi keterbatasan fasilitas. Hal itu juga diimbangi dengan upaya peningkatan kualitas pembelajaran di kelas.
”Pemenuhan sarana dan peningkatan kualitas pembelajaran harus berjalan beriringan demi mengantarkan cita-cita siswa,” tegasnya. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz