JombangBanget.id - Gedung Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang mendadak riuh, Senin (30/3).
Ratusan pasang mata, mayoritas pelajar, tampak saksama menyisir dinding galeri.
Mereka tidak sekadar melihat gambar, namun sedang menyelami narasi kebudayaan yang dibekukan dalam bingkai foto karya Sofan Kurniawan dan Luhur Wahyu Wijaya.
Baca Juga: Pemkab Jombang Paparkan RLPPD 2025, Simak Data Lengkapnya
Pameran bertajuk pelestarian Ludruk dan Wayang Topeng Jatiduwur ini menjadi magnet bagi generasi Z.
Salah satunya Abidzar, siswa SMPN 2 Jombang. Ia terpaku di depan salah satu karya.
”Karyanya keren. Foto-foto yang ditampilkan seolah punya pesan tersirat,’’ cetusnya.
Baginya, kegiatan ini tidak sekadar pameran visual sebuah karya. Namun menjadi ruang untuk melestarikan kesenian lokal kepada generasi muda.
Baca Juga: Pengedar Sabu di Kesamben Jombang Diringkus, Polisi Sita 3,46 Gram Barang Bukti
”Semoga dapat dilaksanakan secara berkelanjutan,’’ papar dia.
Dua fotografer beda kota ini membawa perspektif tajam. Sofan Kurniawan, fotografer Jawa Pos Radar Mojokerto, menggebrak lewat tema “Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan”.
Ia membidik travesty, pria yang memerankan tokoh perempuan dalam kesenian ludruk.
Bagi Sofan, tubuh seniman ludruk adalah ruang politik dan sosial. Travesti bukan sekadar urusan dandan, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sejak zaman kolonial.
”Ludruk bukan hanya hiburan, tetapi juga medium kritik sosial yang hidup di tengah masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, fotografer asal Jombang, Luhur Wahyu Wijaya, menyuguhkan antitesis melalui “Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama dalam Tubuh Baru”.
Luhur mencoba menghidupkan kembali eksistensi wayang topeng yang mulai terpinggirkan dari ingatan publik.
Baca Juga: Menutup Celah Korupsi dalam Anggaran MBG
Di tangan Luhur, topeng-topeng itu bukan sekadar benda kayu mati.
”Bagi saya, topeng adalah representasi identitas, sejarah, dan spiritualitas masyarakat setempat,’’ ungkap Luhur.
Melalui pameran yang berlangsung hingga 2 April ini, Luhur berharap ada percikan rasa ingin tahu yang besar dari anak muda.
Ia ingin kesenian asli Jombang seperti ludruk dan wayang topeng tidak dianggap sebagai artefak kuno yang berdebu.
”Ini adalah identitas budaya yang harus tetap hidup di tengah masyarakat modern,’’ pungkasnya. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz