
PIALA Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menyuguhkan ironi yang menarik perhatian dunia.
Di tengah memanasnya hubungan politik antara Amerika Serikat dan Iran, kesebelasan Iran tetap hadir dan bertanding di negeri yang selama ini menjadi lawan politik negaranya.
Bahkan, ketika sebagian anggota delegasi Iran mengalami kendala visa dan Iran menuding adanya perlakuan diskriminatif, para pemain tetap datang untuk menjalankan misi olahraga mereka, meski harus menginap di Meksiko.
Peristiwa ini mengajarkan satu pelajaran penting: manusia yang beradab mampu membedakan antara konflik politik dan nilai kemanusiaan.
Mereka memahami bahwa perang tidak harus menghapus akal sehat, dan perbedaan tidak harus membunuh penghormatan terhadap sesama.
Dunia modern sering kali terjebak dalam logika hitam-putih. Jika berbeda pandangan politik, maka seluruh hubungan harus diputus.
Jika terjadi konflik, maka semua pihak dianggap musuh tanpa kecuali. Namun sikap yang ditunjukkan kesebelasan Iran memberikan pesan berbeda.
Mereka datang bukan sebagai pasukan perang, melainkan sebagai atlet. Mereka hadir untuk bertanding, bukan untuk memperpanjang permusuhan.
Fenomena ini mengingatkan kita kepada salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam, yaitu Shalahuddin al-Ayyubi yang dalam literatur barat disebut Sultan Saladin.
Nama Saladin dikenang bukan hanya karena kemenangan militernya, melainkan karena kemuliaan akhlaknya.



