’’Wafatnya sebentar lagi, para dokter tak lagi mampu memberi apa-apa.’’
Penyakit itu mengendap di dalam paru-paru yang kian termakan usia.
Tak ada hari yang ia lalui tanpa obat yang membuat muak. Perempuan itu sebatang kara meninggali rumah gaya Belanda di ujung jalan.
Marina rapuh terbaring lara, bunga sedap malam mulai layu dimakan waktu. Seperti dirinya. Menguning, tua, lalu mati, kembali pada ibu bumi.
Marina ku, Marina kecil ku. Marina semata wayang, diadopsi dengan penuh cinta dari panti asuhan di tengah kota.
Ketika ia berusia 60 tahun. Marina banyak menghabiskan waktu bersamaku, dengan
batuk yang mengkhawatirkan. Ia senantiasa menatap ke arah barat, tanpa mengucap sepatah kata.
Jemarinya diketukkan di meja, 7 kali di setiap duduknya.
Marina ku, badai apa yang ada di sana? Lalu Tukang Kebun itu datang.
Ia berkata bahwasanya dia kemari karena diminta para tetangga untuk Marina renta, sebab tiada berkawan dalam rumah besar sendirian.
Aku tak percaya, namun apa daya.
Baca Juga: Cerpen: Tamu Tengah Malam
Gadis ini menetap 7 menit setiap harinya. Dia selalu mampu melakukan semua hal dalam waktu sesingkat itu.
Sejak 50 tahun, kesehatan Marina memburuk. Ia tak mampu bangkit dari kasur, batuknya kian parah.
Dengan bantuan tetangga, mereka mendatangkan dokter kemari.
Marina mengidap tuberkulosis kronis. Namun penyakit itu tak menghalanginya untuk kembali kepada ku.
Marina selalu menghadap ke cakrawala dengan ketukan 7 kali dari jarinya. Tukang kebun iba, namun ia tetap datang setiap harinya.
Marina bercerita. ’’Aku menanti mega. Seorang muda berjanji akan datang di sana.’’
Apa yang kau nantikan, Marina? Marina bangkit dari kasurnya, tertatih menghampiri dekapan ku.
Tukang kebun ada di sisi ku, untuk pertama kalinya kami bersama-sama menemani Marina tua.
Mega kemerah-merahan menampakkan hilalnya.
’’Marina… maaf membuatmu menunggu lama. Ku ingin engkau tahu bahwa aku tak pernah mati dan selalu ada di dalam jiwa mu.’’
Marina berujar, ’’Sudah ku tahu sejak lama tentang hal itu. Aku tak ingin membunuhmu.
Kau berjanji akan datang ketika usia ku 60 tahun. Ku tunggu sukma mu 7 tahun lamanya.’’
Tak pernah ku dapati mendung semuram itu pada wajah si tukang kebun.
’’Ayah dan Ibu telah membunuh kita dari dalam, Marina. Kita hanyalah burung dara yang sangkarnya dipercantik dengan bunga-bunga agar betah di dalam. Kita hanya sebatas porselen keramik yang dipajang di ruang tamu. Dibersihkan bila perlu, dipuji bila ada tamu. Karena itu aku membuat janji dengan Sang Esa untuk menemanimu di usia senja.’’
Mereka berdua saling genggam tangan di samping ku, kursi goyang kesayangan Marina.
’’Mega telah datang, Marina, Mari.’’ (*)
Penulis:
Elsa Fatimaturrosida
(Jurnalistik Ink.Space SMA Muhammadiyah 1 Jombang)
Editor : Ainul Hafidz