Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cerpen: Tamu Tengah Malam

A
Penulis: Ainul Hafidz❯
Ilustrasi cerpen tamu tengah malam.
Ilustrasi cerpen tamu tengah malam.

MALAM itu hujan turun deras. Listrik di rumah Pak Roni padam sejak sore, dan ia hanya mengandalkan cahaya dari lampu minyak di ruang tamu.


Advertisement

Di luar, petir menyambar langit, dan suara hujan memukul atap seperti dentuman genderang perang.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu depan.

Pak Roni melirik jam tua di dinding—tepat pukul 00.15 WIB. Siapa yang datang tengah malam begini?

Advertisement

Dengan hati-hati, ia membuka pintu. Di ambang, berdiri seorang pria muda, basah kuyup. Wajahnya pucat, mata cekung, dan napasnya terengah-engah.

’’Maaf, Pak… motor saya mogok di depan. Boleh saya numpang berteduh sebentar?’’

Pak Roni ragu, tapi rasa iba mengalahkan kecemasannya. Ia mempersilakan pria itu masuk. Mereka duduk di ruang tamu yang redup, sambil menyesap teh panas.

Advertisement

’’Ada telepon?’’ tanya pria itu.

’’Tidak ada sinyal sejak siang,’’ jawab Pak Roni.

Suasana hening. Pak Roni memperhatikan gerak-gerik pria itu. Ada yang aneh—cara ia menatap ruangan, cara ia menggenggam sesuatu di balik jaketnya.

’’Rumah ini… sudah lama kosong ya, Pak?’’ tanya pria itu tiba-tiba.

Pak Roni mengernyit. ’’Maksudmu? Saya tinggal di sini sejak lima belas tahun lalu.’’

Pria itu tersenyum miring. ’’Kata orang, rumah ini milik seorang duda tua yang tewas karena dirampok… Tepat malam seperti ini.’’

Pak Roni terdiam. Suasana mendadak dingin.

’’Aku cuma ingin lihat langsung,’’ lanjut pria itu pelan. Ia mengeluarkan selembar foto tua—gambar rumah ini, tapi lebih usang.

Pria itu berdiri, menatap sekeliling.

’’Ayahku… yang dibunuh di sini.’’

Pak Roni berdiri kaku. ’’Kau bilang… Ayahmu?’’

Pria itu mengangguk. ’’Namanya Roni. Dan kau… Bukan dia.’’

Seketika lampu minyak padam tertiup angin. Saat cahaya kembali, pria itu sudah menghilang.

Pak Roni menggigil. Ia berlari ke kamar, membuka laci—mengambil cermin kecil. Wajahnya… kosong. Tak ada bayangan.

Ia terdiam. Dinding di belakangnya perlahan menghitam, menyerap cahaya.

Karena kini, ia ingat: Rumah ini memang kosong.

Dan dirinya… Sudah mati lima belas tahun lalu.

Penulis:

Aulia Arfan Daffa

Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah

Advertisement

Artikel Terkait

Student Journalism Jombang: Albert Baskara Laxsander

Student Journalism Jombang: Albert Baskara Laxsander

Baskara adalah laki-laki yang memiliki perbedaan. Dia tampan namun sifatnya  berbeda. Beda? Iya beda. Contohnya, dia itu  nakal. Selalu melanggar peraturan sekolah. Dia juga keras kepala. Banyak orang yang tidak mau

Setitik Cahaya yang Mulai Padam

Setitik Cahaya yang Mulai Padam

DI sebuah desa terpencil di antara dua gunung raksasa, terdapat sebuah desa yang disebut Desa Kabut. Sesuai namanya, desa ini diselimuti oleh kabut abadi.

Mahasiswa BK UNESA Susun Modul Pembinaan Warga Binaan Rutan Kelas IIB Nganjuk

Mahasiswa BK UNESA Susun Modul Pembinaan Warga Binaan Rutan Kelas IIB Nganjuk

Mahasiswa BK UNESA menyusun modul regulasi emosi dan kontrol diri serta infografis edukatif untuk mendukung pembinaan warga binaan Rutan Nganjuk.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer