JombangBanget.id - Pekerjaan rumah baru menanti kepemimpinan PBNU periode 2026–2031 setelah Muktamar ke-35 NU menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU.
Keduanya kini mendapat tugas lanjutan membentuk kepengurusan PBNU untuk lima tahun ke depan.
Muktamar ke-35 NU menetapkan sembilan orang formatur untuk menyusun struktur kepengurusan tersebut.
Baca Juga: Didik J. Rachbini Gagas Pesantren Jadi Motor Transformasi NU
KH Miftachul Akhyar ditetapkan sebagai ketua formatur, sedangkan Gus Kikin, sapaan KH Abdul Hakim Mahfudz, dipercaya sebagai sekretaris.
Ketua Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU Prof. KH Abdul Kholid menjelaskan, keberadaan formatur merupakan bagian dari mekanisme organisasi yang diatur dalam tata tertib muktamar.
Tim tersebut dibentuk setelah proses pemilihan Ketua Umum PBNU rampung. ”Sesuai dengan pasal 11 bab 4, bab 6, formatur terdiri dari tiga wilayah mewakili dari wilayah timur, wilayah tengah, dan wilayah barat,” jelas Abdul Kholid dalam sidang pleno.
Baca Juga: Gus Salam Buka Suara soal Dugaan Intimidasi di Muktamar NU Jombang
Total formatur yang bertugas menyusun kepengurusan PBNU periode 2026–2031 berjumlah sembilan orang. Keterwakilan dalam tim formatur dibagi berdasarkan kawasan.
Selain unsur wilayah timur, tengah, dan barat, terdapat pula perwakilan dari Jawa Timur sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU.
”Jadi jumlah formatur yang akan menyusun kepengurusan PBNU periode 2026–2031 berjumlah 9 orang. Tata tertib Muktamar memberikan batas waktu maksimal satu bulan setelah pelaksanaan muktamar,” bebernya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang resmi ditutup Presiden Prabowo Subianto, Senin (31/8).
Forum tertinggi nahdliyin tersebut melahirkan duet kepemimpinan baru PBNU periode 2026–2031, yakni KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum.
Penetapan ini merupakan hasil musyawarah mufakat sembilan anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA). Selain itu, AHWA juga menitipkan sejumlah mandate rekonsiliasi.
Di antaranya agar Rais Aam terpilih merangkul seluruh elemen dan potensi nahdliyin tanpa sekat dinamika internal pascamuktamar.
”AHWA meminta Rais Aam merangkul dan merawat NU secara bersama-sama tanpa meninggalkan satu potensi pun,” tegas KH Anwar Iskandar saat membacakan keputusan hasil musyawarah AHWA di hadapan peserta muktamar, Minggu (30/8). (ang/naz)
Editor : Achmad RW