
JombangBanget.id — Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini menggagas pesantren menjadi motor transformasi Nahdlatul Ulama (NU) pasca-Muktamar ke-35 NU di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Melalui penguatan pendidikan, teknologi, ekonomi, kesehatan, sumber daya manusia, dan pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, setelah mengalami transformasi sosial yang sangat besar selama hampir setengah abad, pesantren dan masyarakat nahdliyin kini memiliki modal sosial, intelektual, dan jaringan akar rumput yang kuat untuk menjadi motor perubahan ekonomi dan pembangunan Indonesia.
Didik mengingatkan, gagasan modernisasi pesantren yang pernah dikembangkan Dawam Rahardjo dan LP3ES pada era 1980-an masih relevan untuk dikontekstualisasikan.
Ketika itu, pengembangan pesantren diarahkan untuk menjawab persoalan kemiskinan, keterbatasan pendidikan, dan rendahnya keterampilan masyarakat pedesaan.
Seiring waktu, pesantren telah berkembang pesat dan melahirkan kelas menengah serta banyak intelektual, doktor, dan guru besar dari lingkungan pesantren dan NU.
“Pesantren sekarang sudah mengalami kemajuan luar biasa dibandingkan kondisi hampir setengah abad lalu. Mobilitas vertikal masyarakat pesantren berjalan sangat cepat, kelas menengah tumbuh, dan kaum intelektual dari lingkungan pesantren juga berkembang. Namun, masih terdapat ketimpangan dan kelompok masyarakat yang tertinggal sehingga agenda transformasi itu harus dilanjutkan,” kata Didik dalam catatannya pasca-Muktamar NU.
Menurut Didik, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus tugas utama bagi elite NU ke depan.
Modernisasi pesantren tidak cukup hanya dilakukan dalam bidang pendidikan keagamaan, tetapi harus diarahkan pada penguatan pendidikan, kesehatan, teknologi, sumber daya manusia, ekonomi, kemandirian pangan, serta pemberdayaan masyarakat sekitar pesantren.
Ia juga menilai pemerintah perlu menempatkan masyarakat nahdliyin sebagai bagian penting dari agenda pembangunan nasional.



