JombangBanget.id – Doktrin KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab tentang hubungan NU, Islam, dan negara kembali disampaikan KH Muhammad Hasib Wahab Hasbullah dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).
Di hadapan Presiden Prabowo dan ribuan muktamirin, Gus Hasib menegaskan ketiganya tidak dapat dipisahkan.
Ketua Majelis Pengasuh PP Bahrul Ulum KH Muhammad Hasib Wahab Hasbullah menyampaikan pidato kunci yang menegaskan doktrin sang ayah, pahlawan nasional KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) yang juga tokoh pendiri NU, yakni pemerintah, negara, dan NU tidak bisa dipisahkan.
Baca Juga: Muktamar NU Digelar, 30 Madrasah Jombang Beralih ke Daring
Di hadapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan ribuan muktamirin, putra Mbah Wahab yang akrab disapa Gus Hasib itu menjabarkan filosofi mendasar relasi jamiyah dan negara.
”Doktrin Mbah Wahab kepada putra-putri dan seluruh warga NU adalah negara dan Islam, negara dan NU, tidak bisa dipisahkan. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang logam yang saling melengkapi dan tak terpisahkan,” tegas Kiai Hasib dalam sambutannya di pembukaan muktamar.
Kiai Hasib menjelaskan bahwa atas dasar doktrin itulah, NU sejak awal berdirinya hingga kini senantiasa memegang teguh prinsip cinta tanah air (hubbul wathan) dan konsisten mendukung pemerintahan yang sah.
”Oleh karena itu, NU benar-benar cinta tanah air dan mendukung pemerintahan yang sah, sejak era Presiden Soekarno hingga Presiden Prabowo Subianto,” tambahnya.
Baca Juga: Muktamar NU Dongkrak Ekonomi Jombang, UMKM Laris Manis
Mengutip ajaran yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW, Kiai Hasib mengaitkan keberlangsungan bangsa dengan dua pilar utama: ulama dan umara (pemerintah).
”Ada dua golongan, ketika dua golongan ini baik, maka baiklah rakyatnya. Dan ketika keduanya rusak, maka rusak pula rakyatnya. Ulama dan umara harus bersatu,” tegas Pengasuh Tambakberas tersebut.
Tak hanya menegaskan relasi kebangsaan, suasana pembukaan muktamar makin hangat saat Kiai Hasib menyelipkan tradisi khas pesantren Tambakberas dalam membaca momentum secara simbolis melalui penanggalan, atau yang ia sebut sebagai "ilmu otak-atik".
Kiai Hasib menyoroti keistimewaan Muktamar ke-35 yang dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada momentum tanggal 27 Agustus 2026.
Baca Juga: Muktamar NU Dongkrak Ekonomi Jombang, UMKM Laris Manis
"Sungguh istimewa Muktamar NU ke-35 di Tambakberas ini. Istimewanya, Bapak Prabowo hadir pada tanggal 27. Angka 2 ditambah 7 itu 9, itu jumlah bintang NU. Tahun 2026, angka 2 ditambah 6 hasilnya 8, dan bulan Agustus itu bulan ke-8. Angka 8 ini identik dengan Pak Prabowo. Muktamar ini muktamarnya Pak Prabowo, angkanya Pak Prabowo. Alhamdulillah,” seloroh Kiai Hasib yang disambut tepuk tangan muktamirin. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz