Jelang Muktamar NU di Jombang, KH Miftachul Akhyar Diminta Introspeksi

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:51 WIB
Tokoh senior Nahdlatul Ulama (NU), KH Adnan Anwar. (IST)
Tokoh senior Nahdlatul Ulama (NU), KH Adnan Anwar. (IST)

JombangBanget.id — Tokoh senior Nahdlatul Ulama (NU), KH Adnan Anwar meminta Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengambil waktu untuk introspeksi sebelum kembali mencalonkan diri dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang.

Ia menilai keputusan maju atau tidak harus didasarkan pada pertimbangan maslahat dan mudarat agar tidak memicu konflik baru di internal NU.

Ia berharap KH Miftachul Akhyar dapat mengambil waktu khusus untuk melakukan perenungan dan mempertimbangkan seluruh konsekuensi yang mungkin muncul.

Baca Juga: Muktamar ke-35 NU di Jombang, PWNU-PCNU Diminta Dengarkan Aspirasi Nahdliyin

’’Ini masukan kita saja. Mungkin perlu ada forum muhasabah untuk NU, khususnya Rais Aam KH Miftachul Akhyar. Beliau perlu menyendiri untuk bermuhasabah dan menimbang, kalau saya maju lagi, antara mudarat dan maslahatnya lebih besar mana,’’ kata KH Adnan.

Ia menegaskan, apabila pencalonan kembali KH Miftachul Akhyar justru berpotensi menimbulkan konflik baru dan memperuncing perbedaan di tubuh NU, maka pilihan untuk tidak maju kembali patut dipertimbangkan.

’’Kalau kira-kira mudaratnya lebih besar, ya lebih baik Kiai Miftah tidak maju di Muktamar ke-35 NU di Jombang. Jangan sampai keputusan itu malah menimbulkan konflik baru yang tidak selesai-selesai,’’ urainya.

KH Adnan juga mengingatkan agar Muktamar NU tidak menjadi arena permainan kepentingan pihak-pihak tertentu.

Baca Juga: Binrohtal: Mbah Bolong Ungkap Resep Agar Mendapat Pertolongan Allah

Ia mengkhawatirkan adanya pihak yang mencoba mengatur proses muktamar tanpa memahami secara utuh karakter, tradisi, serta nilai-nilai yang hidup dalam NU.

’’Kalau ada orang yang mengatur-ngatur dan kemudian mendorong keadaan menjadi seperti yang mereka inginkan, menurut saya itu sangat tidak beradab. Mereka tidak mengukur level bahayanya. Jangan sampai masuk ke wilayah yang pada suatu saat tidak bisa dikendalikan. Ini sangat berbahaya,’’ tegasnya.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut menjadi semakin serius karena Muktamar ke-35 NU akan berlangsung di Jombang, daerah yang memiliki kedekatan historis dan spiritual dengan para pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah.

’’Apalagi Muktamar kali ini dilaksanakan di Jombang, dekat dengan makam Kiai Wahab. Karena itu, jangan sampai nilai-nilai dan marwah perjuangan para pendiri NU justru dipermainkan,’’ ujarnya.

KH Adnan mengajak seluruh pihak untuk menjaga kesakralan dan kehormatan NU. Menurutnya, NU tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai organisasi biasa yang dapat diatur berdasarkan kepentingan kekuasaan.

’’Jangan jadikan NU sebagai objek permainan. Tolong hati-hati betul. Jangan menyepelekan ini dan menganggap NU sebagai organisasi biasa,’’ katanya.

Baca Juga: Menyoal Kemandirian dan Kedaulatan NU: Catatan Kritis Muktamar NU Pertama di Abad Kedua

Ia juga mendorong para kiai untuk mengedepankan kebijaksanaan dan musyawarah dalam menentukan kepemimpinan NU ke depan.

Bila diperlukan, para kiai senior dapat berkumpul untuk mencari jalan keluar terbaik bagi organisasi.

’’Harapan saya, para kiai memiliki wisdom. Bila perlu, kumpulkan para kiai dan bermusyawarah. Kalau ada musyawarah para kiai, itu lebih baik. Kita mencari siapa yang paling maslahat untuk NU,’’ tutur KH Adnan. (ang/jif/*)

Editor : Ainul Hafidz
kh miftahul akhyar kh adnan anwar muktamar Jombang muktamar nu