Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Belum Sentuh Pekerjaan Inti, Proyek Rehabilitasi Bendung Jatimlerek Jombang Tersendat Efisiensi Anggaran

Ainul Hafidz • Sabtu, 11 Juli 2026 | 06:26 WIB
UNTUK SEMENTARA: Tanggul Sungai Brantas di sisi Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Jombang dikeruk untuk pembuatan saluran pengelak keperluan proyek rehab Bendung Jatimlerek. (4/6/2026). (Ainul Hafidz/Radar Jombang)
UNTUK SEMENTARA: Tanggul Sungai Brantas di sisi Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Jombang dikeruk untuk pembuatan saluran pengelak keperluan proyek rehab Bendung Jatimlerek. (4/6/2026). (Ainul Hafidz/Radar Jombang)

JombangBanget.id – Proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek di Kecamatan Plandaan, Jombang belum memasuki pekerjaan utama.

Hingga awal Juli, pekerjaan masih fokus menyelesaikan pembangunan saluran pelimpah (spillway) sementara sebagai bagian dari tahap persiapan.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang Sultoni mengatakan, penanganan darurat kebocoran pintu keenam Bendung Jatimlerek telah rampung. Saat ini pekerjaan difokuskan pada pembangunan saluran pelimpah sementara.

”Untuk darurat sudah selesai. Sekarang fokus di saluran pelimpah sementara,” katanya.

Baca Juga: Binrohtal: Jalan Menuju Surga Ternyata Banyak dan Mudah Diamalkan

Menurut dia, berdasarkan informasi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, pekerjaan utama rehabilitasi bendung belum dimulai.

”Saat ini belum menyentuh pekerjaan utama. Katanya (BBWS Brantas, Red) tahun ini belum sampai ke situ,” imbuhnya.

Sultoni menjelaskan, pembangunan saluran pelimpah sementara tidak bisa dilakukan terburu-buru. Besarnya debit Sungai Brantas mengharuskan pekerjaan dilakukan secara detail dan penuh kehati-hatian agar tidak membahayakan tanggul di sisi selatan.

”Karena sungai sebesar itu harus dibuatkan secara detail dan hati-hati. Apalagi menghantam sisi selatan tanggul juga rawan,” ujarnya.

Selain membangun saluran pelimpah, pelaksana proyek juga menyempurnakan bangunan pengambilan air (intake) sementara.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, pekerjaan tersebut diperkirakan sudah selesai.

”Plus penyempurnaan atau pembetulan intake sementara. Tapi sepertinya intake sementara sudah selesai,” ungkapnya.

Meski rehabilitasi belum masuk tahap utama, pasokan irigasi untuk area persawahan telah kembali normal setelah penanganan darurat di pintu enam selesai.

Aliran air kini mengalir lancar menuju saluran sekunder maupun Saluran Induk Jatimlerek.

”Irigasi ke sawah pasca selesainya penanganan darurat pintu enam sekarang sudah normal. Baik intake ke sekunder maupun ke Saluran Induk Jatimlerek,” katanya.

Baca Juga: Atasi Kekurangan Guru, Dinas P dan K Jombang Kaji Perubahan Status PPPK Paruh Waktu

Sultoni menambahkan, berdasarkan informasi awal, konsep rehabilitasi Bendung Jatimlerek akan berbeda dengan bendung karet maupun bendung gerak yang selama ini digunakan.

Sistem baru tetap memakai penggerak berbasis karet, tetapi penahan air menggunakan pelat baja.

”Jadi bukan bendung karet, bendung gerak, tetapi tidak sama dengan bendung gerak yang selama ini kita sudah punya seperti di Waruturi maupun yang lain. Bendung geraknya itu penggeraknya tetap pakai karet, tapi penahan airnya pakai plat baja. Informasi awal seperti itu,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, rehabilitasi Bendung Jatimlerek merupakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Brantas.

Pekerjaan dilaksanakan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dengan nilai kontrak Rp 268,33 miliar dan masa pelaksanaan 720 hari.

Dalam perkembangannya, proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek terdampak efisiensi anggaran pusat.

Tahap krusial pembangunan cofferdam berpotensi molor dari target September–Oktober.

PPK Irigasi dan Rawa BBWS Brantas, Agung Purnayudha, menyebut pihaknya masih menghitung dampak pemangkasan anggaran terhadap pekerjaan awal tersebut.

Proyek senilai Rp 268 miliar ini tetap berjalan dengan skema kontrak multiyears.

Baca Juga: MPLS Ramah 2026 Dimulai 13 Juli, Dinas P dan K Jombang Ajak Orang Tua Dampingi Anak ke Sekolah

Namun alokasi anggaran bergeser, tahun ini turun dari Rp 120 miliar menjadi Rp 50 miliar, sementara jatah 2027 naik dari Rp 140 miliar menjadi Rp 210 miliar.

”Nilai kontrak tetap, hanya re-alokasi. Kami masih mencari metode agar cofferdam bisa jalan dengan dana terbatas,” ujarnya. 

Ringkasnya, BBWS Brantas harus menyusun strategi baru agar tahap awal proyek tidak tertunda meski anggaran tahun ini dipangkas. (fid/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#bendung jatimlerek #Jatimlerek #BBWS Brantas #Jombang #Proyek Rehab Bendung Jatimlerek