Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Efisiensi Anggaran Hantam Proyek Bendung Jatimlerek Jombang, Pembangunan Kisdam Terancam Tertunda

Ainul Hafidz • Jumat, 5 Juni 2026 | 06:39 WIB
UNTUK SEMENTARA: Tanggul Sungai Brantas di sisi Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Jombang dikeruk untuk pembuatan saluran pengelak keperluan proyek rehab Bendung Jatimlerek. (Ainul Hafidz/Radar Jombang)
UNTUK SEMENTARA: Tanggul Sungai Brantas di sisi Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Jombang dikeruk untuk pembuatan saluran pengelak keperluan proyek rehab Bendung Jatimlerek. (Ainul Hafidz/Radar Jombang)

JombangBanget.id - Proyek strategis rehabilitasi Bendung Jatimlerek, Plandaan, Jombang mulai tertekan.

Efisiensi anggaran pemerintah pusat memangkas porsi dana tahun ini dan berdampak langsung pada tahapan krusial pekerjaan.

Salah satunya pembangunan kisdam (cofferdam) atau bendungan sementara yang terancam molor. Padahal, struktur ini menjadi kunci sebelum pekerjaan utama dimulai.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa BBWS Brantas Agung Purnayudha mengakui, pihaknya masih menghitung ulang dampak pemangkasan tersebut, terutama untuk pekerjaan cofferdam yang semula ditargetkan September hingga Oktober tahun ini rampung.

Baca Juga: Butuh Anggaran Rp 30 Miliar, Penataan Ruko Simpang Tiga Mojongapit Jombang Dimulai Bertahap

”Untuk kondisi sekarang terkait efisiensi akan kami cek lagi, terutama pekerjaan cofferdam yang rencananya September-Oktober,” katanya.

Proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek merupakan kontrak tahun jamak (multiyears contract/MYC) senilai Rp 268 miliar dari APBN.

Nilai kontrak tetap, namun komposisi anggaran berubah drastis. 

Semula, alokasi 2026 sebesar Rp 120 miliar dan 2027 Rp 140 miliar. Kini, porsi tahun ini dipangkas menjadi Rp 50 miliar. Sebaliknya, anggaran 2027 naik menjadi Rp 210 miliar.

”Jadi hanya re-alokasi atau penggeseran anggaran. Nilai kontrak tetap Rp 268 miliar dan tidak berubah,” imbuhnya.

Perubahan ini memaksa penyesuaian di lapangan. BBWS Brantas harus memutar strategi agar pembangunan cofferdam tetap bisa berjalan dengan dana terbatas.

”Kami masih mencari metode bagaimana cofferdam tetap bisa jalan dengan dana yang ada. Untuk saat ini belum bisa dipastikan,” ujarnya.

Pihaknya berupaya menjaga jadwal tetap sesuai rencana. Sebab, satu tahapan bergeser berpotensi menyeret keseluruhan pekerjaan.

”Kami usahakan semaksimal mungkin sesuai rencana. Karena kalau bergeser, konsekuensinya bisa bergeser semua dan dikhawatirkan (pekerjaan) tidak (selesai) tepat waktu,” tuturnya.

Cofferdam sendiri berfungsi mengendalikan aliran Sungai Brantas selama pekerjaan utama berlangsung.

Baca Juga: Pura-Pura Belanja, Komplotan Pencuri Gondol Ponsel Operasional Toko di Jombang

Setelah itu, aliran sungai akan dialihkan ke saluran pengelak di sisi selatan yang kini masih dalam pengerjaan. 

Di sisi lain, petani di wilayah utara Brantas juga dibuat resah. Pasalnya, aliran air dari Sungai Brantas ke irigasi warga sejak awal Mei terhenti buntut kebocoran pintu enam bendung.

Upaya penambalan hingga pembangunan kisdam di pintu enam juga belum maksimal. 

Untuk diketahui, proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek merupakan program Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Brantas dengan pelaksana PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Nilainya Rp 268,33 miliar dengan masa kontrak 720 hari. Progres saat ini masih di atas target. (fid/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#bendung jatimlerek #Jatimlerek #Jombang #efisiensi anggaran #Proyek Rehab Bendung Jatimlerek