Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Proyek Irigasi Pariterong Jombang Mangkrak, Ahli Teknik Sipil Singgung Tingkat Kemiringan

Ainul Hafidz • Selasa, 10 Februari 2026 | 11:17 WIB
BANGUNAN MATI: Kondisi saluran irigasi Pariterong di Desa Jarakkulon, Kecamatan Jogoroto, Jombang tampak terbengkalai dan belum berfungsi.
BANGUNAN MATI: Kondisi saluran irigasi Pariterong di Desa Jarakkulon, Kecamatan Jogoroto, Jombang tampak terbengkalai dan belum berfungsi.

JombangBanget.id – Proyek irigasi Pariterong (Papar–Turi–Peterongan) hingga kini belum dapat difungsikan meski pembangunannya rampung sejak 2024.

Sejumlah uji alir yang dilakukan selalu gagal.

Salah satu faktor diduga kuat menjadi penyebabnya, persoalan elevasi atau tingkat kemiringan dasar saluran irigasi.

Dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang Saiful Arfaah ST MT menjelaskan, dalam perencanaan saluran irigasi terdapat beberapa faktor mendasar yang harus terpenuhi agar air dapat mengalir sesuai kebutuhan.

”Yang utama adalah sumber air atau intake harus mampu menyediakan debit yang dibutuhkan. Lalu dimensi penampang saluran dan kemiringan dasar saluran atau longitudinal slope harus bisa menghantarkan air sesuai debit tersebut,” katanya, Senin (9/2).

Jika sumber air sudah dipastikan mencukupi, maka persoalan utama kemungkinan besar berada pada saluran irigasi itu.

Terlebih, berdasarkan keterangan dari Dinas PUPR Jombang permasalahan muncul setelah uji alir dilakukan.

”Kalau uji alir gagal dan sumber airnya tidak bermasalah, berarti ada persoalan di salurannya. Bisa karena sedimentasi yang cukup banyak sehingga dimensi penampangnya berkurang. Penampang makin kecil, debit yang bisa dialirkan otomatis berkurang,” imbuhnya.

Sedimentasi yang terjadi berkaitan erat dengan dimensi dan kondisi geometrik saluran.

Karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan, normalisasi saluran sebelum uji alir kembali dilaksanakan.

”Harus dinormalisasi dulu. Setelah itu diuji ulang. Kalau masih belum memenuhi, baru dicek kemungkinan kemiringan dasarnya, apakah terlalu kecil atau justru terlalu besar,” ujarnya.

Baca Juga: Pemkab Jombang Surati BBWS Brantas, Minta Kejelasan Irigasi Pariterong Mangkrak

Terkait kondisi elevasi saluran, Saiful menilai kemungkinan adanya ketidaksesuaian kemiringan akibat metode pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan per spot.

Karena pengerjaan dilaksanakan hanya pada lahan yang sudah bebas.

”Kalau pengerjaannya by spot, ada kemungkinan kemiringannya tidak langsam atau tidak menerus dari hulu sampai hilir. Ini sangat berpengaruh, karena saluran irigasi itu prinsipnya seperti papan luncur. Kalau tidak langsam aliran air akan terganggu,” paparnya.

Tingkat kemiringan saluran irigasi harus dihitung secara cermat dari hulu hingga hilir.

Karena setiap saluran memiliki karakteristik dan kebutuhan kemiringan yang berbeda-beda.

”Solusi terbaik tetap normalisasi dulu, lalu uji alir. Kalau masih gagal, maka elevasi atau kemiringan saluran dari hulu ke hilir harus dicek dan dihitung ulang,” katanya. (fid/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#kementerian pu #dinas pu sda jatim #Pariterong #mangkrak #proyek irigasi #BBWS Brantas #Kejaksaan #Jombang #kpk #irigasi Pariterong #Kejagung