JombangBanget.id – Sosok Dewi Muasyaroh, S.Si., M.Si., guru kimia di MAN 1 Jombang, dikenal sebagai pendidik yang tekun, rendah hati, dan konsisten menebar inspirasi melalui dunia sains.
Wanita kelahiran Jombang, 11 April 1976 ini telah mendedikasikan lebih dari dua dekade hidupnya untuk mendidik dan membimbing generasi muda di bidang kimia.
Dewi adalah putri pasangan H Achmad Munif dan Hj Mutli’anah. Ia tumbuh di lingkungan yang menanamkan pentingnya pendidikan dan keikhlasan dalam berjuang.
Dari kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia sains. Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Mujahidin Parimono, lalu melanjutkan ke MTsN 1 Jombang, dan MAN 1 Jombang.
Kecintaannya pada ilmu kimia membawanya ke Universitas Brawijaya, Fakultas MIPA, Jurusan Kimia, dan lulus pada tahun 1999.
Sejak masih kuliah, ia aktif sebagai asisten praktikum dan setelah lulus S1 ia menjadi asisten dosen selama dua tahun.
Setelah itu, Dewi memutuskan mengabdikan diri di almamaternya, MAN 1 Jombang, mulai tahun 2002.
”Lima tahun setelah mengajar, saya mendapat kesempatan melanjutkan S2 di ITS melalui beasiswa Kemenag, saat masih honorer,” ujarnya. Di kampus tersebut, ia memperdalam bidang Kimia Nonhayati dengan fokus penelitian sintesis zeolit, dan meraih gelar Magister Sains.
Setelah menyelesaikan pendidikan S2, Dewi kembali mengajar dan terus berkontribusi sebab beasiswa tersebut mengharuskannya melakukan pengabdian selama lima tahun.
Tahun 2009, ia resmi diangkat menjadi CPNS. Sejak saat itu, kiprahnya di dunia pendidikan semakin luas mulai dari kepala laboratorium IPA, koordinator pembimbing olimpiade, hingga pembina komposting.
Ketertarikannya pada kimia sempat berawal dari cita-citanya menjadi ahli farmasi atau peneliti pupuk.
Namun, takdir mengarahkannya menjadi guru. Keputusan yang ia ambil karena ingin menuruti keinginan sang ibu agar tidak jauh dari keluarga. ”Setelah dijalani, alhamdulillah dinikmati saja, dan ternyata inilah jalan rezeki saya,” tuturnya.
Prinsip hidup yang selalu ia pegang adalah Ridhollahi fi ridhol walidaini, wasukhtullahi fii sukhtil walidaini yang artinya keridaan Allah tergantung pada keridaan orang tua.
Prinsip ini menjadi pegangan kuatnya dalam menjalani profesi sebagai pendidik.
Dewi menikah dengan Hananto, dan dikaruniai dua putri Aisyah Wardatul Alifiyah dan Rahmania Rizqi Ramadhani, yang kini menempuh pendidikan di MTsN 3 Jombang.
Ia memberi kebebasan penuh pada anak-anaknya untuk memilih cita-cita. ”Yang penting mereka terus menuntut ilmu setinggi mungkin,” katanya lembut.
Meski belum sempat melanjutkan ke jenjang S3 karena fokus pada keluarga, semangatnya dalam belajar dan mengajar tak pernah surut.
”Ada keinginan, tapi prioritas saya masih untuk anak-anak. Mereka sudah mulai besar, dan itu yang utama,” ujarnya.
Semangat belajar terus dilakukan meski tidak dalam jalur formal, yaitu melalui kegiatan diklat, pelatihan, wokshop, dan lain sebagainya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz