JombangBnaget.id – Semangat Hari Kartini dimaknai Dr Hj Ema Erfina Salmanudin MPdI sebagai momentum kebangkitan perempuan dari berbagai keterbatasan.
Khususnya dalam bidang pendidikan.
Istri Wakil Bupati Jombang, Salmanudin Yazid, ini menilai, Kartini adalah simbol perjuangan perempuan untuk keluar dari belenggu sosial, budaya, hingga pendidikan.
Tujuannya agar dapat berkiprah secara setara dalam kehidupan.
’’Peringatan Hari Kartini adalah gerbang kebangkitan perempuan untuk memperjuangkan masa depan yang lebih adil, termasuk dalam akses pendidikan,’’ katanya.
Baca Juga: Hari Kartini, Kepala SMAN Ploso Jombang Ini Ajak Perempuan Jadi Penguat Generasi Bangsa
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Babussalam, Kalibening, Kecamatan Mojoagung ini, pendidikan bagi perempuan merupakan bagian dari perjuangan emansipasi yang selaras dengan nilai-nilai Islam.
Ia mengutip hadis yang menyatakan; Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi laki-laki dan perempuan.
Hal ini menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak sekaligus kewajiban yang setara.
’’Pendidikan bagi perempuan adalah ibadah. Tidak hanya untuk karir, tetapi bentuk ketaatan kepada Allah serta bekal menjalankan amanah kehidupan,’’ jelasnya.
Perempuan adalah madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Karena itu, pendidikan perempuan sangat menentukan kualitas generasi masa depan.
’’Perempuan yang berilmu akan melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan bermartabat,’’ tambahnya.
Pendidikan juga menjadi kunci kemandirian perempuan.
Dengan ilmu, perempuan memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri, berpikir kritis, serta tidak mudah terpengaruh atau dibodohi.
Baca Juga: Perempuan Harus Melek Skill, Begini Pesan Dokter RSUD Jombang di Hari Kartini
’’Kemandirian itu bukan berarti melawan kodrat atau anti laki-laki, tetapi bagaimana perempuan bisa tumbuh bersama menuju kesejahteraan,’’ tegasnya.
Di Pondok Pesantren Babussalam, ia juga mengembangkan pendidikan khusus perempuan yang tidak hanya berfokus pada pendidikan agama dan formal, tetapi juga keterampilan keputrian.
’’Santri putri tidak hanya belajar ngaji dan sekolah, tetapi juga dibekali keterampilan seperti tata boga, tata rias, tata busana, dan tata hantaran,’’ ungkapnya.
Program tersebut telah berjalan rutin setiap hari Jumat sebagai bagian dari upaya membentuk perempuan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga mandiri dan terampil.
Ia berharap semangat Kartini terus hidup dalam diri perempuan masa kini, yakni berani belajar, berpikir, dan menentukan arah hidupnya sendiri. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz