Jombangbanget.id - Hanifah Atmi Nurmala, wanita asal Desa/Kecamatan Kabuh yang kini menjadi guru PAI di SMAN Ploso berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Hanifah bukanlah sosok ibu yang otoriter.
Ia tidak mau memaksa anaknya harus mengikuti semua kamauannya.
Ia lebih senang jika kedua anaknya menjadi diri sendiri. Sebagai ibu ia memberikan bekal karakter yang positif kepada anak-anak untuk berperilaku baik dengan orang tua maupun orang lain.
”Saya mendorong anak saya menjadi diri sendiri, tidak menuntut harus ini dan itu,” kata Hanifah.
Di sekolah misalnya, meski ada program tahdfiz, ia tak meminta keduanya untuk hafal lima juz atau lebih.
Begitu juga dalam nilai akademik, ia tak meminta agar anak-anaknya menjadi peringkat satu atau dua di kelas.
”Semampunya, tidak ada target, yang penting anak-anak enjoy dalam belajar,” jelasnya.
Menurutnya, yang lebih penting dari anak-anak adalah menggali potensi sesuai dengan apa yang disukai. Dengan begitu, mereka akan belajar dengan senang tanpa paksaan.
Meski begitu, di rumah, Hanifah berupaya untuk mendidik karakter kedua anaknya agar menjadi anak yang baik.
Bagaimana harus berperilaku dengan orang lain, baik yang seumuran atau kepada yang lebih tua. Seperti membiasakan untuk berkata perimisi, berterima kasih, meminta maaf dan mengucapkan tolong ketika butuh bantuan.
”Kalau mereka sudah di luar rumah, biar sudah terbiasa, karena kadang mengucapkan terima kasih saja, kalau orang tidak terbiasa juga sulit,” katanya.
Nasihat-nasihat itu diberikannya ketika situasi hati anak sedang baik, sedang bersantai, sedang jalan-jalan atau pada kesempatan yang pas.
”Saya sampaikan itu ketika anak-anak sedang tidak marah atau menangis, karena dimarahi ketika mereka sedang marah akan percuma,” ungkapnya.
Selain itu, Hanifah juga ingin kelak anaknya bisa mondok. Hal itu telah ia sampaikan sejak sekarang.
Menurutnya belajar di pondok pesantren ketika anak lulus SD adalah waktu yang paling tepat untuk memberikan pondasi yang kuat perihal agama.
”Baru nanti setelah SMA mau sekolah di luar bebas, yang penting setelah SD mondok, dan anak-anak sudah setuju akan hal itu,” ungkapnya.
Baginya merawat anak, tidak cukup dengan memberikan makanan yang sehat, pakaian yang cukup, dan tempat tinggal yang layak. Tapi juga harus ditambah dengan doa.
Membacakan Fatihah, menyebut nama masing-masing ketika salat.
”Anak itu ada jasad, ada ruh, kalau jasad diopeni dengan uang, kalau ruh diopeni dengan doa, karena yang bisa membimbing hati anak-anak kita hanya Allah,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz