JombangBanget.id - Sudden cardiac arrest merupakan kondisi ketika jantung pada tubuh manusia berhenti berdetak serta tidak berfungsi secara mendadak.
Sehingga berakibat hilangnya kesadaran pada penderita.
Salah satu dokter spesialis ilmu penyakit jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Islam (RSI) Jombang dr Izzati Nadhifa Rahmawati Sp JP FIHA memberikan edukasi mengenali tanda-tanda peringatan dini serangan jantung.
”Pengetahuan dan pemahaman tentang teknik resusitasi dasar menjadi amat penting, terutama di periode waktu yang kritis sebelum tim medis atau paramedis datang,” ujarnya.
Beberapa tanda umum, lanjut dr Izza, yang harus diwaspadai meliputi detak jantung berdebar-debar semakin kencang, pusing atau kepala ringan terutama saat berolahraga, pingsan saat bersemangat atau kaget selama aktivitas fisik.
Selain itu, kejang selama atau segera setelah berolahraga, nyeri dada atau ketidaknyamanan saat berolahraga, sesak napas yang berlebihan atau kelelahan yang tidak biasa selama latihan serta memiliki riwayat keluarga dengan masalah jantung atau serangan jantung mendadak.
”Apabila kita melihat orang tiba-tiba terjatuh, pingsan, atau tidak sadar dan tidak memberikan respons saat dipanggil, maka dianggap orang tersebut mengalami kejadian henti jantung mendadak dan harus segera diberikan pertolongan pertama berupa pijat jantung sambil menunggu bantuan datang,” tambahnya.
Kejadian henti jantung mendadak dapat terjadi di mana pun, kapan pun dan pada siapa pun.
Tindakan awal bila berhadapan dengan kasus tersebut merupakan elemen kunci yang dapat meningkatkan angka keselamatan pada pasien yang mengalami.
European Society of Cardiology telah merekomendasikan akses yang mudah terlihat terhadap ketersediaan alat automated external defibrilator (AED) di tempat umum dilengkapi dengan bystander atau penolong yang memiliki kemampuan resusitasi dasar.
Alumnus Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Ilmu Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah Universitas Airlangga 2020 tersebut menuturkan pentingnya pelatihan dan edukasi pada komunitas tentang basic life support ke semua elemen masyarakat, tidak hanya di fasilitas pelayanan kesehatan.
”Karena pengetahuan tersebut bila dilakukan di detik-menit awal setelah jatuh tidak sadar sangat krusial untuk kelangsungan hidup penderita,” pungkasnya. (dwi/naz)
Editor : Ainul Hafidz