Senin (18/5), pada Kajian Tafsir di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng, Dr KH Ahmad Musta'in Syafi'ie Alhafiz menyampaikan etika berkomunikasi dalam Alquran.
’’Apakah kita pernah memanggil ayah hanya dengan nama kecilnya? Tentu tidak. Anak yang bermoral tak akan menyapa ayahnya tanpa sebutan 'Bapak' atau 'Ayah'. Begitu pula murid kepada gurunya,’’ tuturnya.
Etika sosial ini berlandaskan aturan teologis dalam Surah An-Nur ayat 63: "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain."
Baca Juga: Mengenal Luluk, Sosok di Balik 18 Motif Batik MTsN 1 Jombang
Secara nida' (sapaan langsung), Allah Ta’ala tidak pernah memanggil Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam langsung dengan nama, melainkan gelar kemuliaan.
Seperti "Ya Ayyuhan-Nabiy". Adapun penyebutan nama "Muhammad" sebanyak empat kali dalam Alquran berada dalam konteks ikhbar (pemberitaan), bukan sapaan.
Hal ini berbeda dengan nabi terdahulu yang disapa langsung dengan namanya. Seperti "Ya Adam" atau "Ya Nuh".
Bentuk sapaan ini bukan mengurangi kemuliaan para nabi terdahulu, melainkan pengistimewaan tertinggi bagi Nabi Muhammad.
Baca Juga: Ditinggal 5 Menit di Sawah, Motor Petani Jombang Raib
Penggunaan gelar ini mengajarkan kita untuk bersikap tawaduk dan beretika kepada siapa pun yang wajib dihormati.
Jika kepada Sang Nabi saja Allah memberikan keteladanan tata cara memanggil yang berkeadaban, lantas bagaimana dengan hubungan kita sehari-hari terhadap guru dan orang tua?
Sapaan seperti Kiai, Gus, Ustaz, Guru, Bapak, atau ibu bukan diciptakan untuk membangun kasta sosial.
Melainkan sarana memelihara kebeningan hati dan rasa hormat.
Ketika rasa hormat hilang dari cara kita menyapa, maka keberkahan ilmu dan keharmonisan hubungan sosial pun perlahan runtuh.
Etika memanggil cermin dari kedalaman akhlak seseorang. Mari kita mulai membenahi cara kita bertutur kata.
Baca Juga: KDKMP Jombang Tak Boleh Cuma Berdiri, Harga Harus Murah
Dimulai dari hal paling mendasar bagaimana kita menyebut nama orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita.
Sebab, bangsa yang besar dan masyarakat yang beradab lahir dari generasi yang tahu cara menghormati gurunya.
Oleh: Mohammad Arif Mubarok, Mahasantri Semester 5 Ma'had Aly Yusuf Masyhar Madrasatul Qur'an Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz