Nerusno bahasan Muktamar NU mendatang terkait dengan sifat Tuhan yang ’’al-Rahman al-Rahim’’ pada surah al-Fatihah.
Itu bukan pameran sifat, melainkan pesan serius agar hamba-Nya berusaha sebisa mungkin meniru sifat-Nya. Yaitu welas asih, yang memberi bukan menerima.
Jadi mengukur manusia saleh dan tidak, mengukur pejabat NU ’’salih’’ opo ’’thalih’’, antara lain bisa dilihat dari sifat ini. Nek dia salih pasti suka memberi, suka berkhidmah, berdedikasi tanpa pamrih.
Baca Juga: Tamu Kehormatan
Sebaliknya, jika dia moto duitan, sembarang diukur materi, apakah: ’’Batheni opo gak’’, menguntungkan secara finansial atau tidak, maka pengurus thalih, brengsek.
Sifat Tuhan ini ’’wajib’’ dimiliki oleh semua pejabat NU, dari tingkat bawah hingga atas.
Pengurus cabang –misalnya- jangan menjadikan muktamar sebagai musim PANEN RAYA lima tahunan. Jadinya royokan datang ke muktamar soalnya pasti mendapat ’’..Un Syai’un’’ yang cukup sueger.
Apalagi bagi mereka yang rata-rata kelas ekonominya biasa dan keimanannya juga biasa. Kelas begini ini pasti komitmennya juga biasa, prinsip dan kejujurannya juga biasa.
Baca Juga: Tersangkut Tanaman Air, Jasad Wanita Ditemukan Mengambang di Sungai Brantas Jombang
Artinya biasa dan mudah digoyah oleh duit and duit.
Dan.. justru pejabat NU kelas inilah yang banyak menentukan terpilihnya ketua tanfidz di muktamar nanti.
Maka tulisan ini terpanggil untuk ’’mengogrok-ogrok’’ telinga mereka agar NU menjadi organisasi keagamaan yang benar-benar agamis.
Jika ada yang beralasan dan berhilah, bahwa uang itu sekedar pesangon, transportasi dan bukan suap, maka yang terbagus diserahkan ke ketua panitia muktamar dan dibagikan secara terbuka dan adil.
Bukan dijadikan serangan fajar dan bisik-bisik mengerucut ke calon tertentu.
Akan lebih menuju ke kesempurnaan, apabila semua piranti yang ada di NU dioptimalkan. Seperti AHWA (Ahlul Halli wa al-‘aqdi) yang terdiri atas sembilan kiai pilihan.
Janganlah bersifat ad hoc, janganlah mereka dibentuk untuk kerja menentukan rais am PBNU, lalu bubar.
Baca Juga: Setengah Tahun, Retribusi Daerah Jombang Kantongi Rp 215 Miliar
Lestarikan and eksiskan ahlull halli wa a’qdi dengan tugas utama sebagai sesepuh dan pinisepuh dalam NU.
Salah satu perannya adalah menasihati secara istiqamah, menjadi mediator, memediasi kalau-kalau ada konflik antara rais am dan ketua tanfidz seperti sekarang. Perkoro statuta, yo dibuatkan.
Itu bukan nasihat baru dan itu sudah ada dalam kitab-kitab kuning. Babnya ’’Ishlah Dzat al-Bain’’.
Sekelas kiai, mosok lupa dengan pesan kitab kuningnya sendiri. Atau karena sibuk ngurusi duit-duitan, ngurusi tambang hingga gak kober ngaji.
Baca Juga: Cabuli Anak Angkat Sejak SMP, Oknum Pengurus Gereja di Jombang Ditahan
Mudah-mudahan cukup ini saja dan mugo-mugo ini yang terakhir.
Karena tak ada sesepuh yang formal, yang berwibawa dan disungkani, maka kondisi tak mesra antara syuriah dan tanfidz berlarut-larut.
Malu sekali, wong ulama’ kok begitu. (bersambung, insya Allah).
Penulis:
KH Mustain Syafii
Editor : Ainul Hafidz