Nahdlatul Ulama sedang memasuki momentum yang sangat menentukan.
Muktamar ke-35 di Jombang bukan sekadar agenda lima tahunan untuk memilih Ketua Umum PBNU, tetapi menjadi titik awal arah perjalanan NU pada abad keduanya.
Di tengah perubahan dunia yang berlangsung begitu cepat, NU membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memahami tradisi pesantren, tetapi juga menguasai tata kelola organisasi modern.
Baca Juga: 5 Bulan, UPTD PPPA Jombang Catat 74 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak
Dalam konteks itulah nama KH Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan layak mendapat perhatian serius.
Pengalamannya yang panjang di lingkungan pesantren, pengabdian di NU, hingga kepercayaan memimpin Kementerian Haji menunjukkan kapasitas yang tidak dibangun dalam waktu singkat.
Kepemimpinan seperti inilah yang dibutuhkan NU untuk menghadapi tantangan zaman.
Ya, hari ini NU tidak lagi hanya berbicara tentang dakwah di tingkat lokal. NU telah menjadi rujukan Islam moderat dunia.
Baca Juga: Bupati Warsubi Bertemu KBRI London, Buka Peluang Investasi Inggris untuk Jombang
Banyak negara memandang Indonesia sebagai contoh keberhasilan merawat keberagaman melalui nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Konsekuensinya, Ketua Umum PBNU ke depan harus memiliki kemampuan membangun komunikasi nasional sekaligus internasional.
Mengaca pada konteks itu, pengalaman Gus Irfan di pemerintahan menjadi modal penting.
Mengelola lembaga negara membutuhkan kemampuan menyusun kebijakan, membangun kolaborasi lintas institusi, hingga memastikan pelayanan publik berjalan baik.
Kompetensi tersebut juga dibutuhkan dalam membangun organisasi sebesar NU yang memiliki jutaan warga, ribuan pesantren, lembaga pendidikan, rumah sakit, hingga jaringan sosial yang sangat luas.
Mungkin, sebagian orang mempertanyakan posisi Gus Irfan sebagai menteri. Namun justru pengalaman itu dapat menjadi nilai tambah.
NU memerlukan pemimpin yang memahami bagaimana negara bekerja tanpa kehilangan independensi organisasi.
Baca Juga: Revitalisasi SD Berpotensi Bertambah 28 Sekolah, Dinas P dan K Jombang Tunggu Kepastian Kementerian
Sejarah NU sendiri menunjukkan banyak ulama yang mampu menjalankan amanah kebangsaan sekaligus menjaga marwah jam'iyah.
Selain itu, Gus Irfan juga memiliki akar historis yang kuat sebagai bagian dari keluarga besar pendiri NU.
Namun, legitimasi sejarah tentu bukan alasan utama. Yang jauh lebih penting adalah kemampuannya menerjemahkan nilai perjuangan para muassis ke dalam kebutuhan NU masa kini.
Warisan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari bukan hanya tentang silsilah, melainkan keberanian melakukan pembaruan tanpa meninggalkan tradisi.
Baca Juga: Kemarau Panjang Ancam Sektor Pertanian, Disperta Jombang Ungkap Wilayah Rawan
Muktamar di Jombang semestinya menjadi arena lahirnya gagasan besar.
NU membutuhkan pemimpin yang mampu memperkuat ekonomi warga, mempercepat transformasi digital, meningkatkan kualitas pendidikan pesantren, serta memperluas diplomasi Islam Nusantara di tingkat global.
Semua itu memerlukan kepemimpinan yang adaptif sekaligus berpijak kuat pada nilai-nilai keulamaan.
Karena itu, adanya Gus Irfan patut dipandang sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan kepemimpinan baru yang mampu menyambungkan tradisi pesantren dengan tantangan masa depan.
Yang dibutuhkan bukan sekadar pergantian figur, tetapi keberanian membawa NU menjadi organisasi yang semakin berpengaruh bagi Indonesia dan dunia.
Baca Juga: Gus Zuem: Merawat Santri Gen Z
Muktamar kali ini hendaknya menjadi momentum memilih nahkoda yang mampu menjaga warisan ulama sekaligus membuka jalan menuju masa depan NU yang lebih besar. (*)
Penulis:
KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib), Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan, Jombang
Editor : Ainul Hafidz