PEKAN lalu, warga Nahdlatul Ulama (NU) disuguhi pemandangan yang kurang sedap dalam forum Musyawarah Nasional di Ploso Kediri.
Perdebatan mengenai penentuan tempat muktamar berkembang menjadi kegaduhan yang menyita perhatian banyak pihak. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar dinamika organisasi.
Namun bagi warga nahdliyin yang mencintai jam'iyah ini, pemandangan tersebut menyisakan rasa malu.
NU adalah organisasi yang selama satu abad lebih mengajarkan adab sebelum ilmu, ukhuwah sebelum perbedaan, serta musyawarah sebelum keputusan.
Baca Juga: Mediasi Warga dan Pabrik Plastik Jombang Alot, Produksi Sementara Dihentikan
Karena itu, setiap kegaduhan di ruang-ruang resmi bukan hanya dipandang sebagai persoalan teknis persidangan, tetapi juga menyangkut marwah organisasi yang selama ini dicitrakan sebagai penjaga adab.
Sebuah organisasi massa, bila kita telaah dengan perspektif sepak bola, pada hakekatnya adalah kesebelasan yang berjuang mendapatkan bola.
Maka forum Muktamar, sesungguhnya bukanlah pertandingan itu sendiri.
Ia adalah ruang seleksi bagi pendukung “kesebelasan NU” untuk menentukan siapa saja pemain yang akan turun ke lapangan, siapa yang layak menjadi kapten, siapa bermain di lini belakang, siapa mengatur irama di lini tengah, dan siapa yang menjadi ujung tombak.
Setelah semua posisi ditentukan, seluruh pemain harus bermain sebagai satu kesebelasan yang memiliki tujuan yang sama, goal.
Dalam sepak bola, sehebat apa pun kemampuan individu seorang pemain, kemenangan tidak akan pernah diraih apabila setiap pemain sibuk berebut bola dengan rekan setimnya sendiri.
Apalagi jika antar pemain saling menjegal, saling menghalangi, bahkan saling menjatuhkan. Bola justru akan sulit didapatkan.
Jika kesebelasan NU sulit mendapat bola, bagaimana bisa memperoleh kemenangan menghadapi lawan yang terus mempersempit ruang gerak kita.
Lawan kita adalah kebodohan yang masih menggerogoti sebagian umat, kemiskinan yang belum sepenuhnya teratasi, ketimpangan pendidikan, lemahnya ekonomi warga hingga degradasi moral generasi muda.
Baca Juga: Diduga Cemari Lingkungan, Pabrik Plastik di Jombang Digeruduk Warga
Itulah lawan sesungguhnya yang seharusnya menjadi fokus permainan kesebelasan NU.
Bila energi para pemain habis untuk bertarung dengan kawan sendiri, maka bola perjuangan tidak pernah benar-benar berada di kaki NU.
Kita sibuk memperebutkan lapangan, sementara lawan dengan leluasa mencetak gol di tengah kehidupan masyarakat.
Akibatnya, kemenangan melawan kebodohan dan ketidaksejahteraan nahdliyin hanya tinggal angan-angan.
Padahal para muassis telah mewariskan teladan yang sangat indah. Mereka berbeda pendapat, tetapi tetap memelihara rasa hormat.
Mereka berdebat keras dalam mencari kebenaran, tetapi lembut dalam menjaga hati. Yang diperebutkan bukanlah kedudukan, melainkan posisi pendukung dalam pemaslahatan umat.
Karena itu, sebelum menyatukan langkah, marilah kita menyatukan hati terlebih dahulu. Karena langkah yang sama tidak akan pernah lahir dari hati yang saling menafikan.
Sebaliknya, hati yang telah menyatu akan mampu menemukan jalan terang, meskipun sebelumnya memiliki pandangan yang berbeda.
Penyatuan hati hanya mungkin terwujud apabila setiap orang meluruskan niatnya.
Berkhidmat kepada NU berarti menempatkan kepentingan jam'iyah di atas kepentingan pribadi, kelompok, maupun daerah.
Baca Juga: RSUD Jombang Ungkap Dampak Digitalisasi terhadap Kesehatan Mental, Ini Tanda yang Perlu Diwaspadai
Jabatan bukan tujuan, melainkan amanah. Forum bukan arena memenangkan ego, tetapi tempat merumuskan ikhtiar terbaik bagi umat.
Mungkin sudah saatnya kita kembali mengingat pertanyaan sederhana: untuk apa kita berada di dalam NU.?
Apakah untuk mengambil manfaat dari NU, ataukah untuk memberikan manfaat bagi NU.?
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi jawabannya akan menentukan arah perjalanan organisasi di masa depan.
Kesebelasan NU sesungguhnya memiliki pemain-pemain hebat. Stadionnya penuh oleh dukungan jutaan nahdliyin.
Pelatihnya pun telah ditentukan melalui mekanisme organisasi (AHWA). Yang masih kurang hanyalah satu: bola perjuangan itu sendiri.
Selama para pemain masih saling berebut bahkan saling menjegal, bola tidak akan pernah benar-benar berada di kaki NU.
Dan tanpa mendapat bola, sehebat apa pun sebuah kesebelasan, ia tidak akan pernah mencetak gol kemenangan. Hanya lari ke sana kemari, sekedar jadi tontonan bagi pembeli tiket dan sponsor.
Bola itu adalah opportunity atau peluang untuk mendapat kebaikan alias barakah.
Saya berharap, para “pemain” NU tidak melupakan nilai keberkahan dalam perjuangannya. Wallahu-a’lam. (*)
Editor : Ainul Hafidz