Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsir Aktual: Al-Fatihah (1)

Rojiful Mamduh • Sabtu, 30 Mei 2026 | 06:25 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)

Tentang pancatatan wahyu era Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam seperti diunggah sebelumnya, tulisan ini mengemukakan analisis lain terambil dari fakta filologis, seperti tertulis dalam Alquran itu sendiri.

Yaitu kisah tentang Nabi Sulaiman alaihissalam. Sang nabi di Palestina mengirim surat kepada Ratu Balqis, penguasa negeri Saba’ Yaman melalui burung Hudhud.

Kita tahu, jarak Palestina ke Yaman sangat jauh, kisaran dua ribu kilometer. Jika ditempuh dengan pesawat terbang membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Surat itu digulung rapi dan diikatkan di salah satu kaki burung tersebut.

Baca Juga: Binrohtal: Rahasia Besar di Balik Ibadah Kurban, Pelajaran dari Nabi Ibrahim dan Ismail

Dilihat dari rute penerbangan antar negara yang sangat jauh, dilihat dari postur kaki burung Hudhud yang ringkih dan kemampuannya membawa beban, agar mudah dan tidak memberatkan, tentu saja dipilih bahan seringan mungkin, setipis mungkin.

Bahan itu harus bisa manampung tulisan secara jelas, yang kata-katanya seperti ini: ”Innahu min Sulaiman wa innahu Bismillah al-Rahman al-Rahim. An la ta’lu ‘alay wa i’tuni muslimin’’, (al-Naml: 30-31).

Logika mengatakan, saat itu sudah ada teknologi penipisan bahan tulis, dengan bobot sangat ringan agar bisa dibawah terbang jauh.

Bahan itu juga harus berkuailitas agar tahan dan tidak mudah rusak saat bersentuhan dengan kelembaban udara, melintasi jarak di atas seribu kilometer.

Tidak hanya itu, untuk menghasilkan tulisan yang bagus sesuai kebesaran kerajaan Sulaiman, tentu sudah ada teknologi mata pena yang lancip dan menghasilkan tulisan jelas, termasuk tinta yang berkualitas, agar tak luntur terkena kelembaban.

Untuk itu, keterangan dalam kitab klasik terkait penulisan wahyu era sahabat perlu dikaji ulang.

Apa benar sedramatis itu..? Apa benar bangsa Arab masih seprimitif itu..? Kok kesannya ndueso banget dan tertinggal.

Lagian, waktu itu kan sudah ada juga surat menyurat antar negara, hubungan diplomasi antar negara.

Rasulullah sendiri sebagai kepala negara juga sering mengirim surat ke penguasa negeri lain.

Begitu pula sebaliknya, baliau juga menerima surat dari negara lain. Koresponden antar negara tersebut pasti ada sekretaris negara yang membidangi. Pasti sudah tersedia alat tulis yang bagus.

Baca Juga: Gegara Bekas Obor, Kandang Ternak di Jogoroto Jombang Terbakar

Ringkasnya, keterangan di dalam kitab klasik tersebut rasanya lebih pada mendramatisir keadaan, untuk mengunggah betapa serius para sahabat dalam penulisan wahyu.

Sangat sungguhan dan teliti, agar tak satu hurufpun lepas dari pencatatan.

Kita kembali ke teknik penulisan Alquran dengan urutan surah seperti sekarang.

Diawali dari al-Fatihah dan seterusnya bukan dari surah yang pertama turun, al-‘Alaq.

Dan secara global sudah dijawab di atas, yaitu berdasar tauqify, instruksi langsung dari Rasulullah.

Tauqify tersebut sekurangnya tercermin pada dua hal.

Pertama, ’’muwadhabah’’, keselaluan, keistiqamahan, rutinitas Rasulullah dalam membaca Alqur’an di hadapan para sahabat.

Mereka menghafal urutan itu dan mereka juga mendokumenkan, sehingga urutannya seperti sekarang. (bersambung, in sya’ Allah). (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii

Editor : Ainul Hafidz
#al-fatihah #KH Mustain Syafii #Jombang #Tafsir Aktual