Irpom Diduga Picu Sumur Warga Ngares Jombang Mulai Mengering

Achmad RW • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 08:19 WIB
Operasinal irigasi perpompaan (Irpom) secara massif untuk pengairan sawah diduga turut memperparah krisis air bersih yang dialami warga Dusun Ngares, Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng, Jombang. (Achmad RW/Radar Jombang)
Operasinal irigasi perpompaan (Irpom) secara massif untuk pengairan sawah diduga turut memperparah krisis air bersih yang dialami warga Dusun Ngares, Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng, Jombang. (Achmad RW/Radar Jombang)

JombangBanget.id - Sejumlah warga Dusun Ngares, Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng, Jombang mengeluhkan penyusutan air sumur yang diduga berkaitan dengan operasional irigasi perpompaan (Irpom) untuk pengairan sawah.

Salah seorang warga, Adip, mengaku mulai melihat air sumurnya menyusut setelah pompa beroperasi beberapa kali, sedangkan pemerintah desa menyatakan hubungan antara keduanya belum dapat dipastikan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Irpom berada di tepi area persawahan Desa Kebondalem, tak jauh dari permukiman warga. 

Baca Juga: 11 Raperda Jombang 2027 Dikaji, Lingkungan Jadi Sorotan

Papan informasi proyek menyebut program bantuan Kementerian Pertanian itu dibangun melalui APBN 2026 dengan anggaran Rp 184 juta. Sumur dalam tersebut dirancang untuk mengairi lahan pertanian seluas 40 hektare.

Adip, warga RT 01/RW 01 Desa Kebondalem, mengaku mulai merasakan penyusutan air sumur setelah Irpom beroperasi.

”Awalnya waktu Irpom nyala 24 jam pertama tidak berpengaruh, kedua masih belum. Baru yang ketiga kalinya itu saya lihat, setelah listrik jeglek, kondisi air sumur saya menyusut,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Sabtu (17/10).

Sebelumnya ia mendapat sosialisasi dari pemerintah desa bahwa pengambilan air untuk Irpom tidak akan mengganggu sumur warga.

Baca Juga: Jombang Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, 175 Desa Punya Perdes

”Waktu akan dilakukan pembangunan, pemerintah desa memberikan informasi kalau tidak akan mengambil air dari sumur sumber dangkal. Katanya sumber air yang diambil itu 40-42 meter di kedalaman tanah, dan tidak akan berdampak ke warga,” tuturnya.

Menurut Adip, pola pengoperasian Irpom kini mulai menyesuaikan kebutuhan petani. Jika sebelumnya pompa sempat menyala selama dua hari berturut-turut, kini pengoperasiannya dibatasi dari pagi hingga sore, maksimal sekitar pukul 16.00.

”Kalau diberlakukan sampai 24 jam seperti sebelumnya, takutnya air sumur milik warga, termasuk saya, itu surut airnya,” jelasnya.

Kepala Desa Kebondalem Faisol Zakariya mengatakan, dugaan hubungan antara pengoperasian Irpom dan penyusutan air sumur warga belum dapat dipastikan.

Menurutnya, penggunaan fasilitas tersebut belum maksimal karena masih menyesuaikan kebutuhan pengairan petani.

”Belum dapat dipastikan sebab penggunaannya belum maksimal, hanya beberapa jam dalam satu hari, sesuai kebutuhan para petani. Irpom itu benar sudah satu bulan ini berdiri,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Faisol berharap Irpom tidak hanya menunjang pengairan sawah, tetapi juga dapat membantu memenuhi kebutuhan air rumah tangga saat musim kemarau. Namun, pemanfaatan tersebut masih membutuhkan jaringan perpipaan.

Baca Juga: Rencana Pengeringan Saluran Mrican Batal, Ini Kondisi Terbaru Irigasi Jombang

”Saya berharap juga bisa dimanfaatkan sebagai suplai kebutuhan rumah tangga di saat musim kemarau. Akan tetapi, masih membutuhkan pipanisasi,” katanya.

Ia menambahkan, pengoperasian Irpom masih dalam tahap uji coba sehingga durasi penggunaannya ke depan belum ditentukan.

”Masih dalam tahap uji coba karena baru berfungsi dua pekan,” pungkasnya.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis, Kabid Sarana dan Prasarana Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Hortikultura Disperta Jombang Eko Purwanto belum memberikan penjelasan mengenai dugaan dampak pengoperasian Irpom terhadap air sumur warga.

”Iya kemarin memang ada yang tanya itu, mohon maaf belum bisa saya jawab, saya masih ada kegiatan,” singkatnya. (riz/naz)

Editor : Ainul Hafidz
irpom ngares Kebondalem kekeringan Jombang