Sungai Rejoagung Jombang Penuh Limbah, Excavator Dikerahkan

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 06:42 WIB
DIKERUK: Timbunan limbah tahu dan campuran sampah rumah tangga Sungai Sekunder Rejoagung 2 di Dusun Murong Santren, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Jombang, dikeruk, Senin (21/9). (Anggi Fridianto/Radar Jombang)
DIKERUK: Timbunan limbah tahu dan campuran sampah rumah tangga Sungai Sekunder Rejoagung 2 di Dusun Murong Santren, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Jombang, dikeruk, Senin (21/9). (Anggi Fridianto/Radar Jombang)

JombangBanget.id – Excavator dikerahkan DLH Jombang untuk mengeruk Sungai Rejoagung 2 di Dusun Murong Santren, Desa Mayangan, Senin (21/9).

Itu setelah limbah tahu, sampah, dan kotoran sapi menumpuk di aliran sungai yang sebelumnya dikeluhkan warga.

Pantauan di lokasi, sebuah alat berat excavator diterjunkan untuk mengangkat timbunan limbah yang menumpuk di dasar sungai.

Baca Juga: RSUD Jombang Siapkan Amdal, Radioterapi Mulai Dirancang

Limbah tak hanya berasal dari pengolahan tahu, tapi juga bercampur dengan sampah hingga kotoran sapi. Akibatnya, aroma tak sedap menyelimuti wilayah sekitar sepanjang hari.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) DLH Jombang Menis Agus Muttaqin mengatakan, pengerukan dilakukan sebagai bagian dari penanganan darurat untuk mengatasi timbunan sampah dan limbah yang mengendap di aliran sungai.

”Ini merupakan kegiatan normalisasi Sungai Rejoagung 2. Terkait limbah dan sampah yang ada di sungai tersebut, saat ini kami lakukan penanganan dengan pengerukan,” ujarnya.

Menis menyebut, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan sampah dan limbah menumpuk. Selain kebiasaan membuang sampah ke sungai, terdapat limbah dari aktivitas usaha tahu dan peternakan yang masuk ke aliran sungai.

Baca Juga: Mampir Beli Minum, Motor Karyawan Pabrik Dicuri di Jombang

Kondisi itu diperparah minimnya curah hujan sehingga aliran air tidak berjalan optimal. Akibatnya, sampah dan limbah tertahan serta menumpuk di sejumlah titik.

”Penyebabnya ada beberapa. Di situ terdapat buangan sampah ke sungai, kemudian ada limbah tahu dan ternak yang masuk ke sungai. Ditambah kondisi saat ini tidak ada curah hujan dan aliran air, sehingga sampah dan limbah tertahan, mengumpul, dan menjadi satu,” jelasnya.

Untuk penanganan awal, DLH melakukan pengerukan dan mengangkat material yang menumpuk. Itu dinilai perlu dilakukan segera karena kondisi di lapangan sudah membutuhkan penanganan darurat.

”Karena kondisinya darurat, penanganan awal yang harus dilakukan adalah normalisasi. Sampah yang menumpuk harus diambil dan dilakukan pengerukan agar timbunan tersebut bisa diselesaikan,” katanya.

Meski demikian, pengerukan bukan menjadi solusi jangka panjang. Pemerintah menyiapkan pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal di kawasan itu.

”Penanganan yang dilakukan sekarang ini sifatnya darurat. Untuk jangka panjang, akan ada pembangunan IPAL komunal dengan dukungan Pertamina PGN. Diharapkan IPAL tersebut bisa menyelesaikan persoalan limbah ini,” terangnya.

Baca Juga: Periodisasi Kades Dipertegas, Raperda Desa di Jombang Dimatangkan

Disinggung soal dampak timbunan limbah, Menis menyebut timbunan limbah yang berada di sungai dikhawatirkan berdampak terhadap kenyamanan warga. Salah satu dampak yang paling terasa adalah munculnya bau tidak sedap.

”Dampak yang paling langsung tentu bau. Kalau bau tidak sedap terus-menerus, tentu mengganggu kehidupan dan aktivitas masyarakat,” ungkapnya.

Selain bau, DLH juga mewaspadai potensi pengaruh terhadap kualitas air di sekitar bantaran sungai. Limbah yang berada di aliran sungai dikhawatirkan dapat meresap ke lingkungan sekitar.

Namun, Menis menegaskan pihaknya belum dapat memastikan dampak kesehatan secara langsung akibat kondisi tersebut.

Dia menyebut perlu ada kajian dari pihak yang memiliki kompetensi untuk memastikan dampak kesehatan.

”Untuk dampak kesehatan secara langsung saya tidak kompeten menjawabnya. Tetapi dari sisi bau, tentu bisa mengganggu aktivitas dan produktivitas masyarakat, termasuk anak-anak yang belajar,” pungkasnya. (ang/fid)

Editor : Ainul Hafidz
Jogoroto limbah DLH Jombang Dikeruk