Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal: Tak Harus Punya Karamah, Begini Syarat Utama Menjadi Wali Allah Berdasarkan Alquran

Rojiful Mamduh • Senin, 29 Juni 2026 | 06:50 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Pengasuh Pesantren Al Manshuriyah, Kalijaring, sekaligus Ketua MUI Kecamatan Tembelang, Jombang, KH Nur Kholis, menjelaskan tentang wali.

’’Maqom tertinggi di sisi Allah yakni menjadi wali-Nya. Karena dekat dengan Allah, wali tak pernah merasa susah dan sedih,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (26/6).

Sebagaimana disebutkan di QS Yunus 62-63. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

Orang normal kehilangan pangkat dan jabatan akan sedih. Tapi wali tidak sedih, karena baginya, yang penting dekat dengan Allah Ta’ala.

Baca Juga: Proyek Jalan Mojolegi–Panglungan Dikebut, Perkuat Akses Wisata Wonosalam Jombang

Para wali tidak takut masa depan, tidak bersedih atas masa lalu. Mereka percaya sepenuhnya kepada janji Allah Ta’ala.

Para wali tidak larut dalam kesedihan terhadap apa yang telah berlalu. Mereka rida terhadap keputusan Allah dan berharap pahala-Nya. 

Bukan berarti para wali tidak pernah merasakan emosi manusiawi.

Nabi Ya'qub alaihissalam pernah bersedih karena kehilangan Nabi Yusuf hingga buta. Namun kesedihan beliau tidak membuatnya berputus asa dari rahmat Allah.

Allah berfirman: Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir (QS Yusuf 87).

Yang hilang dari hati para wali bukanlah sifat manusiawinya, tetapi ketakutan yang memutus harapan dan kesedihan yang menjauhkan dari Allah Ta’ala.

Allah sendiri telah menjelaskan syarat menjadi wali-Nya; Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa (QS Yunus 63).

Tidak disebutkan harus mampu berjalan di atas air, mengetahui perkara gaib, atau memiliki karamah luar biasa. Allah hanya menyebut dua syarat: Iman dan takwa.

Setiap orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, dia wali Allah.

Maqom kewalian bukan monopoli ulama besar atau ahli ibadah yang terkenal.

Pedagang yang jujur, petani yang istiqamah salat berjamaah, ibu yang sabar mendidik anak-anaknya, bahkan santri yang ikhlas berkhidmah kepada pondok juga dapat menjadi wali Allah jika iman dan takwa.

Baca Juga: Rusak 30 Meter, Tanggul Afvour Purisemanding Jombang Ditangani untuk Cegah Luapan Air

Ayat di atas juga menjadi cermin untuk mengukur keadaan hati kita. Apakah kita terlalu takut menghadapi masa depan? Apakah kita terus dibelenggu penyesalan masa lalu?

Semakin kuat keyakinan kepada Allah, semakin tenang hati menghadapi kehidupan.

Allah berfirman: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS Ar-Ra'd 28).

Selama kita masih belajar memperkuat iman, rasa takut dan sedih bisa saja muncul. Yang terpenting, kita tidak membiarkan kedua perasaan itu mengalahkan tawakal kepada Allah.

Orang beriman tidak mudah guncang. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin.

Semua urusannya baik baginya. Ketika memperoleh nikmat ia bersyukur. Ketika tertimpa musibah ia bersabar. Karena itu, hidupnya selalu bernilai ibadah.

Di hadis qudsi Allah berfirman: Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku mengumumkan perang terhadapnya.

Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.

Baca Juga: Layanan PBG dan SLF di Jombang Dievaluasi, Hanya 30 Persen Konsultan Terlibat

Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.

Hasan al-Bashri pernah ditanya, ’’Siapakah wali Allah?’’

Beliau menjawab, ’’Mereka adalah orang-orang yang ketika manusia sibuk mengejar dunia, mereka sibuk mengejar akhirat. Ketika manusia bergembira dengan dunia, mereka bergembira karena dekat kepada Allah.’’ (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Polres Jombang #Wali Allah #alquran #Binrohtal #Jombang