Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Buka Suara Soal PHK 1.000 Buruh, PT SGS Jombang Sebut Perusahaan Terus Merugi

Azmy endiyana Zuhri • Selasa, 16 Juni 2026 | 08:14 WIB
Komisi D memanggil manajemen perusahaan, perwakilan buruh, dan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jombang untuk meminta penjelasan terkait PHK lebih dari seribu pekerja yang akan berlaku mulai 1 Juli mendatang. (Azmy Endiyana/Radar Jombang)
Komisi D memanggil manajemen perusahaan, perwakilan buruh, dan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jombang untuk meminta penjelasan terkait PHK lebih dari seribu pekerja yang akan berlaku mulai 1 Juli mendatang. (Azmy Endiyana/Radar Jombang)

JombangBanget.id - Manajemen PT Sumber Graha Sejahtera (SGS) akhirnya buka suara terkait rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari seribu karyawan.

Perusahaan menegaskan, kebijakan tersebut terpaksa diambil karena kondisi keuangan perusahaan yang diklaim terus mengalami kerugian.

Perwakilan PT SGS Taufik mengatakan, keputusan PHK telah melalui berbagai pertimbangan dan sebelumnya disosialisasikan kepada karyawan maupun serikat pekerja.

”PHK ini bukan tanpa perencanaan. Kami sudah menyampaikan kondisi perusahaan kepada seluruh karyawan maupun serikat pekerja. Keputusan ini sangat berat bagi manajemen,” ujarnya saat rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Jombang, Senin (15/6).

Baca Juga: Pengusaha Toko Pakaian di Tembelang Meninggal Usai Loncat dari Jembatan Ploso Jombang

Menurut dia, langkah serupa tidak hanya dilakukan di PT SGS Jombang. Sejumlah unit perusahaan di daerah lain juga melakukan pengurangan tenaga kerja karena menghadapi tekanan bisnis yang sama.

Sebelum memutuskan PHK, manajemen mengaku telah berupaya mempertahankan tenaga kerja. Namun, kondisi perusahaan yang terus merugi membuat langkah efisiensi tidak dapat dihindari.

”Kebijakan ini sangat sulit dilakukan. Tidak ada perusahaan yang ingin mengurangi karyawannya. Kami ingin seluruh pekerja tetap bekerja, tetapi kondisi perusahaan saat ini tidak memungkinkan,” katanya.

Taufik menjelaskan, penurunan pesanan menjadi penyebab utama perusahaan mengalami kerugian. Jika pada 2020 hingga 2021 perusahaan masih menerima order dalam jumlah besar, saat ini permintaan pasar terus menurun.

Menurutnya, perlambatan tersebut dipengaruhi situasi geopolitik global yang berdampak pada perekonomian dunia.

”Faktor utama yang memengaruhi adalah situasi geopolitik dunia. Perang Rusia-Ukraina dan konflik yang berkembang di Timur Tengah berdampak besar terhadap pasar global,” jelasnya.

Selain itu, kebijakan tarif Amerika Serikat juga disebut memengaruhi ekspor dan permintaan pasar internasional. Padahal, sebagian besar produk kayu lapis yang diproduksi perusahaan dipasarkan ke luar negeri.

”Kondisi properti dan industri di pasar global sedang mengalami perlambatan. Dampaknya sangat terasa terhadap order yang diterima perusahaan,” imbuhnya.

Meski demikian, manajemen berharap kondisi ekonomi global segera membaik sehingga permintaan pasar kembali meningkat.

Baca Juga: Ribuan Lowongan Kerja Menanti, Bupati Warsubi Jemput Ekspansi Industri di Jombang

”Kami berharap konflik global segera berakhir dan negara-negara yang terdampak perang bisa kembali membangun. Dengan begitu permintaan pasar dapat pulih dan kondisi perusahaan membaik," tuturnya.

Terkait hak pekerja yang terdampak PHK, perusahaan memastikan seluruh kewajiban akan dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.

”Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh karyawan yang terdampak. Dalam proses PHK ini kami tetap berkomitmen mengikuti aturan yang berlaku, termasuk terkait penyelesaian hak-hak pekerja,” pungkasnya. (yan/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#rugi #PT SGS #Jombang #phk #plywood